TSTJ atau Solo Safari Buka 27 Januari, Pengunjung Bisa Lihat Walabi dan Komodo

oleh
Solo safari
Solo Safari atau yang dulunya Taman Satwa Taru Jurug akan buka | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Setelah pembangunan fase 1 rampung, rencananya Solo Safari atau yang dulunya bernama Taman Satwa Taru Jurug akan buka pada 27 Januari 2023.

Wali Kota Solo Solo, Gibran Rakabuming Raka mengatakan saat ini taman kebanggaan wong Solo tersebut telah memiliki satwa baru berupa walabi. Walabi adalah sejenis kangguru berukuran kecil, hidup di hutan Indonesia timur.

“Saya tadi pagi ke sana, saya lihat sudah ada walabi masuk. Kalau hewan-hewan lain transfernya tanggal 20 Januari, maksimal tanggal 20 udah masuk. Harga tiket masih rahasia, minggu depan saja ya harganya,” kata Gibran, Senin (16/1/2023).

Selain walabi, Gibran menyebut Solo Safari juga akan miliki satwa langka yang dilindungi yakni komodo.

“Nunggu transfer dulu, komodo paling di depan. Nanti beli tiket turun langsung komodo. Yang jelas itu satwanya ada yang dari Taman Safari. Ada dari punya kita sendiri dan ada yang lewatnya dari saya,” pungkasnya.

Sebagai informasi walabi merupakan hewan yang kecil. Tinggi walabi kurang dari 1 meter dengan berat kurang dari 20 kilogram. Jenis satwa yang satu ini memiliki warna yang tidak seragam di tubuhnya. Bulu walabi memiliki dua hingga tiga warna.

Berita sebelumnya, Solo Safari miliki konsep berbeda agar bisa menjadi destinasi yang megah di Kota Solo. Tidak hanya cafe lion, danau, Asian Panorama saja, pasalnya Taman Jurug yang baru juga ada perkampungan ala Afrika dan Museum Gesang, untuk menghormati sang maestro keroncong Pencipta lagu Bengawan Solo.

Perkampungan ala Afrika ini merupakan bagian dari konservasi satwa. Meliputi pengembangbiakan dan penyelamatan satwa liar. Tidak hanya sebagai tempat rekreasi, Solo Safari juga akan menjadi destinasi yang dapat memberikan edukasi, peragaan dan sumber indukan.

Solo Safari Habiskan Dana Rp 20 Miliar

Ketua Umum DPP Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) menegaskan, Solo Safari menghabiskan dana pengembangan sekitar lebih dari Rp 20 miliar.

“Ini bukan hanya investasi tapi ingin membangun yang sudah ada, kita revitalisasi kami buat lebih modern dan bisa lebih meningkatkan sisi edukasi. Sehingga orang yang datang, terutama anak-anak bisa belajar mencintai satwa, terutama satwa-satwa Indonesia,” papar Hans.