SEMARANG, MettaNEWS – Menghadapi potensi bencana di musim kemarau, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat kapasitas personel relawan kebencanaan. Sebanyak sekitar 150 relawan terpilih mengikuti pelatihan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk meningkatkan kemampuan dalam merespons kejadian bencana di lapangan.
Penguatan kapasitas relawan tersebut dinilai penting untuk memastikan penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat dan tepat, sehingga potensi korban jiwa maupun kerugian materiil dapat ditekan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Sumarno, mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, mengatakan kompetensi relawan menjadi salah satu kunci dalam penanganan kondisi darurat.
Hal itu disampaikan Sumarno setelah memimpin Apel Pelatihan Peningkatan Kapasitas Personel Relawan Kebencanaan di BPKH Penggaron, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jumat (4/9/2026).
“Kami mengapresiasi dan sangat support kegiatan peningkatan kapasitas teman-teman relawan ini. Ini menjadi bagian tanggung jawab pemerintah daerah agar kalau ada kebencanaan, penanganannya bisa lebih cepat,” ujar Sumarno.
Relawan Harus Sigap, Bukan Bingung Saat Bencana
Sumarno menegaskan, penanganan bencana tidak hanya membutuhkan jumlah personel yang cukup, tetapi juga kemampuan yang teruji.
Relawan diharapkan mampu mengambil keputusan dan melakukan tindakan awal secara cepat ketika menghadapi situasi darurat.
“Jadi tidak kalau ada kejadian bingung, tapi sudah bisa mengambil langkah dan penanganan segera dieksekusi. Penanganan yang lebih cepat tentu akan berdampak pada penekanan jumlah korban dan kerugian,” tegasnya.
Menurutnya, semakin cepat respons dilakukan, semakin besar peluang untuk mengurangi dampak bencana terhadap masyarakat.
Waspada Kebakaran Lahan dan Tempat Sampah
Menghadapi musim kemarau, Pemprov Jateng memberikan perhatian khusus terhadap potensi kebakaran lahan dan tempat pembuangan sampah.
Sumarno mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melakukan pembakaran, terutama ketika kondisi cuaca panas dan angin berpotensi membuat api cepat menjalar.
Ia menyoroti kebiasaan membakar sampah kemudian meninggalkannya sebelum api benar-benar padam.
“Biasanya orang bakar sampah begitu sudah nyala ditinggal pulang. Padahal dengan kondisi angin, api bisa terbang ke sana kemari dan membesar. Kalau terpaksa membakar, tolong ditungguin sampai padam,” imbaunya.
Peringatan tersebut disampaikan sebagai langkah pencegahan agar aktivitas sederhana seperti membakar sampah tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
Krisis Air Bersih Terus Dipantau
Selain ancaman kebakaran, Pemprov Jateng juga memantau potensi krisis air bersih di sejumlah wilayah selama musim kemarau.
Sumarno mengatakan, sejauh ini kebutuhan suplai air bersih masih dapat ditangani oleh pemerintah kabupaten dan kota masing-masing.
Namun, Pemprov Jateng memastikan siap turun tangan apabila kondisi di suatu daerah membutuhkan dukungan lebih besar.
“Kita terus pantau. Kalau memang kabupaten/kota membutuhkan bantuan, Pemprov Jateng siap memberikan bantuan,” ujarnya.
150 Relawan Lolos Seleksi Ikuti Diklat TRC
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Provinsi Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, pelatihan TRC kali ini diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Para peserta sebelumnya mengikuti proses pendaftaran dan seleksi sebelum dinyatakan lolos untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan.
“Pesertanya kurang lebih 150 orang se-Jawa Tengah. Dari pendaftaran kemudian kita filter untuk mengikuti Diklat Tim Reaksi Cepat (TRC) Jawa Tengah ini,” jelas Bergas.
Pelatihan melibatkan instruktur dari Basarnas. Salah satu materi utama yang diberikan berkaitan dengan kemampuan pencarian dan pertolongan, termasuk Urban Search and Rescue (Urban SAR).
Kemampuan tersebut diharapkan semakin memperkuat kesiapan relawan ketika menghadapi berbagai kondisi bencana yang membutuhkan operasi pencarian dan penyelamatan.
Kebakaran Lebih Banyak Dipicu Kelalaian
Bergas mengatakan, berdasarkan pemetaan risiko, kejadian kebakaran hutan di Jawa Tengah relatif minim. Namun, kebakaran lahan pertanian maupun perkebunan masih menjadi perhatian.
Sebagian kejadian tersebut dipicu oleh faktor manusia atau human error, sehingga kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting dalam pencegahan.
BPBD Jateng pun terus melakukan pemantauan terhadap titik panas atau hotspot yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran.
“BPBD tetap harus siap. Begitu terdeteksi titik panas (hotspot) yang berefek pada potensi kebakaran, kita langsung bergerak memadamkan bekerja sama dengan Damkar setempat,” pungkas Bergas.
Dengan penguatan kompetensi sekitar 150 relawan TRC, Pemprov Jateng berharap respons kebencanaan di berbagai daerah semakin cepat, terkoordinasi, dan mampu meminimalkan dampak terhadap masyarakat.








