Taman Satwa Taru Jurug akan Jadi Miniatur Taman Safari Indonesia

oleh
oleh
TSTJ
Pintu masuk area TSTJ | Metta News / Kevin Rama

SOLO, Metta NEWS – Kebun binatang legend milik Kota Solo,  Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) akan berubah konsep. Rencananya TSTJ akan direvitalisasi konsepnya menjadi seperti Taman Safari Indonesia. 

Pada pembahasan revitalisasi TSTJ yang berlangsung di rumah dinas wali kota Loji Gandrung, Selasa (22/02/2022) dihadiri oleh Direktur Taman Safari Indonesia Hans Manansang bersama tim, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming, Wakil Wali Kota Teguh Prakosa dan  Direktur Utama TSTJ Bimo Wahyu Widodo. 

Direktur Taman Safari Indonesia Hans Manansang menjelaskan agenda pertemuan tersebut baru sebatas paparan ide yang akan dibangun untuk TSTJ. Tidak sekedar kebun binatang, Hans menyebut ada edukasi yang disampaikan seperti pengunjung khususnya anak-anak bisa belajar satwa sesuai dengan habitat aslinya. 

“Gambaran awalnya kita ingin menjadikan sebuah pengalaman yang bercerita tidak semata-mata kebun binatang, harus menjadi kebun binatang yang modern, sehingga orang masuk bisa merasakan satwa di habitat aslinya,” jelas Hans usai pertemuan. 

Ia menjelaskan masa pembangunan TSTJ akan bertahap dan dibagi dalam beberapa fase. Untuk fase pertama lanjut Hans sifatnya untuk memberikan gambaran apa yang akan dilakukan di fase kedua. 

“Jadi desainnya secara keseluruhan tetapi pembangunannya kita bikin fase demi fase. Mulai pintu masuk sampai sekitar danau masuk fase pertama yang akan kita ubah. Kalau ini sudah berjalan, sudah bergulir nanti kita lihat fase kedua sebagai pengembangan fase pertama,” ujar Hans.

Hans mengungkapkan TSTJ sangat memungkinkan untuk dikonsep menjadi seperti Taman Safari Indonesia.  

“Kurang lebih mirip dengan Taman Safari, dengan lahan sekarang sangat memungkinkan untuk dibuat seperti Taman Safari, sangat bisa dan sangat luas sekali. jadi tidak ada lagi kandang-kandang, semua sifatnya terbuka, pengunjung juga tidak merasa melihat satwa terkungkung lagi dan satwa bisa bergerak bebas di sekitar kita tanpa bersentuhan mereka bebas berkeliaran,” ungkapnya.  

Ia menjelaskan sedikit berbeda dengan Taman Safari, untuk pengunjung sistemnya tetap berjalan kaki, hanya saja konsep kandang untuk satwa berbeda. 

“Konsep kandangnya tidak lagi kotak-kotak dan berjeruji tapi lebih terbuka. Jadi kita melihat satwa seperti di habitat aslinya. Mungkin fase pertama lebih banyak di zona konservasi jadi lebih banyak bercerita tentang satwa-satwanya,” kata Hans yang sebelumnya pernah menangani Taman Safari Prigen (Jawa Timur), kebun binatang Jakarta, kebun binatang Bali dan Batam ini.  

Ketua Umum DPP Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) ini menegaskan, TSTJ akan dikonsep jauh berbeda dari yang ada saat ini. Dengan dana awal pengembangan sekitar lebih dari 20 miliar rupiah, ada sisi edukasi yang ditonjolkan bagi pengunjung. 

“Ini bukan hanya investasi tapi ingin membangun yang sudah ada, kita revitalisasi dibuat lebih modern dan bisa lebih meningkatkan sisi edukasi. Sehingga orang yang datang, terutama anak-anak bisa belajar mencintai satwa, terutama satwa-satwa Indonesia,” papar Hans. 

Pada kesempatan tersebut, Wali Kota Gibran menambahkan ada beberapa bangunan bersejarah di Jurug yang tetap dipertahankan salah satunya adalah Taman Gesang. 

“Bangunan yang memiliki nilai sejarah yang udah ada sekarang tetap kita pertahankan, tadi sudah pembagian 7 zona tapi belum bisa saya bocorin sekarang ya, kalau udah pasti aja,” singkat Gibran. 

Gibran mengungkapkan nantinya tidak ada konsep kebun binatang yang di kandang jeruji (kerangkeng). 

“Miniatur Taman Safari bisa juga, tadi udah kita bahas tidak ada lagi konsep konsep kebun binatang yang pakai krangkeng semua dilepas semua, ada petting zoo, Pengunjung tetap jalan kaki bukan pakai mobil, biasanya ada sungainya, ga ada pager pokoknya nanti ada pemisahnya nanti aja kalau gambarnya udah jadi,” tutup Gibran.