Tak Boleh Jualan di Taman Jurug, Rusbiyanto : Mohon Pak Gibran Perhatikan Orang Kecil

oleh
Pedagang
Rusbiyanto (51) Pedagang Kaki Lima (PKL) Taman Jurug menunjukkan dagangannya, Minggu (1/1/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Nasib Rusbiyanto, Pedagang Kaki Lima (PKL) mainan Taman Satwa Taru Jurug terombang ambing dalam ketidakpastian. Rusbiyanto menjadi salah satu dari 183 PKL yang masih enggan menerima tawaran relokasi ke Selter Manahan yang ditawarkan Pemerintah Kota Solo.

Pria berusia 51 tahun itu pun memohon kepada Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka agar dicarikan lokasi yang cocok untuk ia menjajakan hasil kriyanya. Sebab ia merasa Selter Manahan hanya cocok untuk berdagang makanan maupun minuman.

“Mohon Pak Gibran perhatikan orang-orang kecil kita juga sejak pandemi belum ada peningkatan pendapatan mohon pak biar saya bisa jualan di Jurug,” kata Rusbiyanto ketika ditemui MettaNEWS, Minggu (1/1/2023).

“Kecuali kalau saya usahanya lain, seperti makanan mungkin saya bisa di mana tempat menjalankannya tapi kalau ini dicocokkanlah pak,” tambahnya.

Dengan mata berkaca-kaca, beberapa kali Rusbiyanto memohon agar Gibran mengizinkannya untuk berjualan di TSTJ. Sebab Rusbiyanto merasa mata pencahariannya hanya bersumber pada lokasi wisata.

“Mohon bantuannya Pak Gibran. Kalau bukan lewat pemerintah saya harus kemana, saya nggak berani menentang, mohon dibantu. Mohon Pak Gibran usaha saya tentang kreatifitas, mohon pak ditingkatkan, saya pengin naik level semakin maju Jurug kan bisa mengembangkan ekonomi seharusnya,” pinta Rusbiyanto.

Menurut Rusbiyanto, pedagang yang biasa berjualan di lokasi wisata akan kesulitan menjajakan dagangannya di lokasi lain. Beralih dagangan pun dirasa sulit baginya.

“Nggak cocok kalau barang ini dijual di tempat bukan wisata, kemarin ditawarkan di Selter Manahan. Jadi tetap pingin di Jurug, karena saya rumahnya Jebres lebih dekat, sejak kecil saya juga main di sana jadi buat apa kalau kita sudah tahu sejarahnya terus milih tempat lain,” kata Rusbiyanto.

Rusbiyanto bersikukuh agar dapat kembali ke Taman Jurug. Maka berkali-kali ia datang ke Dinas Perdagangan untuk memperjuangkan keinginannya.

“Saya dulu pernah menyampaikan ke Dinas Perdagangan kan ngga ada tempat sewa ini  belum ada tanggapan sampai sekarang 2 sampai 3 bulan saya menyampaikan tempat berjualan,” ujarnya.

Terlebih Taman Jurug menjadi awal mula usahanya ada. Terhitung 6 tahun sudah Rusbiyanto mengais rezeki di Jurug.

“Saya punya kreativitas juga dari sana, inspirasi saya lahir dari Jurug terus kalau tahu-tahu dipindah ya gimana hatinya kaya apa, tetap selalu ingat kalau usaha ini besar di Jurug sudah 6 tahun saya jualan di sana,” bebernya.