SOLO, MettaNEWS – Puluhan pedagang Paguyuban Bakul Taman Jurug (PBTJ) mengikuti audiensi bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Solo terkait permasalahan relokasi, Jumat (30/9).
Dipimpin Ketua DPRD Kota Solo, Budi Prasetyo audiensi dimulai sekitar pukul 13.00 WIB. Ketua PBTJ, Sarjuni menyampaikan duduk permasalahan yang terjadi antara Perumda Taman Jurug dengan pedagang.
Disampaikannya para pedagang tak terima jika harus angkat kaki usai Taman Jurug selesai direvitalisasi. Audensi berjalan selama satu jam itu membahas setiap aspirasi pedagang yang disampaikan.
Usai audiensi rampung, Ketua Komisi II DPRD, Honda Hendarto mengatakan pihaknya akan mengambil langkah dengan mengirim surat secara resmi kepada Perumda TSTJ.
“Kita enggak akan memanggil, saya akan berkirim surat secara resmi secara kelembagaan ke Direktur TSTJ, nanti tembusannya bisa ke Mas Wali,” kata Honda kepada awak media, Jumat (30/9/2022).
Honda menilai keputusan Perumda TSTJ untuk merelokasi pedagang ke pasar tradisonal maupun tindakan pengusiran dari Taman Jurug tidak sesuai dengan visi misi Wali Kota Solo terkait UMKM dan UKM yang seharusnya naik kelas.
“Seharusnya tidak serta merta mengambil keputusan atau kebijakan memindahkan begitu saja itu artinya tidak menjalankan misinya Wali Kota bahwa UMKM dan UKM harus naik kelas, inilah kesempatannya, TSTJ dibangun profesional sedemikian rupa, mereka para UKM ini ayo dinaikan kelasnya, kan gitu,” terangnya.
Menurutnya, Perumda TSTJ seharusnya melihat peluang revitalisasi untuk menaikkan level pedagang. Baik secara pengemasan produk, pelayanan maupun lokasi berdagang yang bagus.
“Tadi dikatakan diusir harus dikosongkan oleh Pak Direktur, seharusnya bagaimana UMKM ini bisa naik kelas. Mungkin pelayanannya bagus, tempatnya bagus, kan itu harusnya,” jelasnyaz
Pihaknya menyayangkan tidak adanya pembicaraan antara Perumda dengan DPRD terkait revitalisasi ini. Pun Perumda merupakan perusahaan di bawah naungannya. Ia menilai keberadaan DPRD tak dianggap.
“Tahu saja enggak, kok, pembicaraan, blas ngertinya dari berita. Blas, itu sobekan kertas saja tidak. Istilahnya bukan kecolongan, mungkin memang kami tidak dianggap ada oleh Perumda, Perumda itu kan mitra kami, mungkin kami dianggap enggak ada, enggak apa-apa,“ jelasnya.
Honda optimis dapat duduk bersama dengan Perumda TSTJ agar pedagang tidak dicampakkan. Pun ia menilai pedagang memiliki peran besar dalam sejarah perkembangan Taman Jurug. Sehingga kesempatan untuk sama-sama naik level baginya sangatlah besar.
“Tercapai kami optimis, semua mesti serba optimis. Solusinya dinaikan kelasnya, mendukung apa yang menjadi visi-misi wali kota, menaikan semua UMKM dan UKM di Solo naik kelas, tegas itu kita dukung, bukan dicampakan. Mereka di situ punya sejarah besar di TSTJ,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua PBTJ Sarjuni berharap lewat pertemuan kali ini para pedagang dapat memiliki secercah harapan untuk bertahan di TSTJ.
“Harapannya setelah jadi tetap eksis di situ, masalah penempatannya kita nggak tahu yang penting masuk dulu. Kita koordinasi dulu dengan DPRD hasilnya kaya apa ya penting audiensi sama pak Wali juga namun kita mempercayakan dulu pada DPRD,” terangnya.
Pihaknya mempercayakan semua keputusan di DPRD, berharap akan ada kabar baik sebelum revitalisasi selesai di bulan Desember 2022. Ia juga merasa puas dengan apa yang didapat saat audiensi.
“Ada kepuasan wis kita mantap dengan apa yang dipaparkan dengan DPRD, kita tidak lain untuk eksistensi tidak macam-macam, DPRD akan menindaklanjuti aduan kami menyangkut hak-hak pedagang mudah-mudahan berhasil doakan saja,” tutupnya.







