SOLO, MettaNEWS – Dinas Perdagangan Kota Solo akan merelokasi 183 pedagang Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) ke 5 pasar yakni Pasar Pucangsawit, Pasar Tanggul, Pasar Jebres, Pasar Ngemplak dan Pasar Rejosari.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo, Heru Sunardi menyebut kelimanya merupakan lokasi yang memungkinkan untuk ditempati.
“Terkait dampak penataan TSTJ kami sudah berkoordinasi dengan pihak pengelola dan menyiapkan beberapa titik lokasi untuk berjualan dan sudah kita petakan cukup dan ada,” kata Heru kepada MettaNEWS, Kamis (29/9/2022).
Namun Heru membeberkan dirinya diminta Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming untuk mencari alternatif lain. Hal ini menyusul adanya protes yang dilayangkan para pedagang Taman Jurug yang tak terima jika direlokasi ke pasar.
“Kami masih didawuhi Pak Wali mencarikan alternatif lain. Ini hanya gagasan, kami tawarkan apa di selter Manahan yang baru namun dengan konsekuensi di sana kan sudah ada yang menempati tetap,” bebernya.
Pihaknya mengaggas adanya shift yang bisa diterapkan untuk PKL selter Manahan dan pedagang Taman Jurug. Yakni saat sore hari selter akan ditempati pedagang tetap Manahan baru di malam harinya pedagang Taman Jurug berjualan.
“Selter Manahan itu peluang sebagai solusi dari Disdag. Namun kami perlu mengoordinasikan dengan pedagang yang sudah terdata dan masuk situ, nanti kalau sudah dua shift akan bisa kita alihkan,” jelasnya.
Menurut Heru selter Manahan miliki fasilitas yang memadai seperti meja kursi sehingga pedagang Taman Jurug tidak perlu repot membawa peralatan sendiri.
Sebelumnya para pedagang bersikukuh tak mau menempati pasar lantaran sepi pembeli.
“Saya hanya punya pilihan, jadi atas keluhan TSTJ terkait dengan relokasi beberapa PKL Disdag dimintai bantuan pertolongan, saya punyanya hanya itu,” jelasnya.
Menurutnya 5 pasar yang disebutkan merupakan lokasi paling potensial yang bisa ditempati.
“Kenapa saya tawarkan pasar-pasar itu, karena masih ada potensi kosong ditempati, kalau pasar-pasar lainnya kan sudah jenuh sudah full, misal Pasar Gede kan sudah banyak pedagangnya nggak mungkin bisa ditampung di sana,” terang Heru.
Pihaknya meminta para pedagang yamg berjualan suvenir destinasi wisata beralih ke jenis sembako.
“Mereka harus beralih usaha, karena pasar sudah diatur zonasinya, kedua jenis jualannya, kalau mereka jualannya di situ jualannya sayur atau sembako ya harus jualnya itu,” katanya.
Heru menuturkan usulan peralihan jenis dagangan bukanlah kehendak pribadi melainkan aturan pasar. Untuk itu pedagang harus menyesuaikan
“Itu sudah saya sampaikan saat sosialisasi. Saya punya tempat namun ini ada aturan ketentuannya untuk jualan di situ. Jenis dagangan yang bisa dijual di sana sayur bisa, gerabatan bisa, ayam, daging, seperti itu, tak goleke nggon (saya carikan tempat),” terangnya.
Relokasi pedagang Taman Jurug ditargetkan Pemerintah Kota Solo selesai pada September ini.
“Saya sudah kirim data, nanti tinggal mereka mau milih pilih mana. Kalau di total jumlahnya itu 183 yang jualan aktif tiap hari hanya 30-an, terus yang lainnya pedagang musiman, Sabtu-Minggu, lebaran, natal, tahun baru,” terangnya.
Perihal retribusi pedagang Taman Jurug akan ditarik dengan nominal yang sama sesuai ketentuan pasar masing-masing.
“Ini sifatnya membantu TSTJ, dan membantu pedagang, saya ditugasi Wali Kota untuk membantu cari solusi penyelesainnya jadi saya tawarkan ini,” tukasnya.








