SOLO, MettaNEWS – Orangutan bernama Didi yang sempat keluar dari area enclosure atau exhibit Solo Safari menjadi perhatian publik. Pihak pengelola memastikan satwa tersebut telah berhasil diamankan dan dikembalikan ke enclosure dalam kondisi sehat serta tidak mengalami kendala.
General Manager Solo Safari, Miyana Harikna, mengatakan kejadian tersebut menjadi pembelajaran bagi pengelola. Menurutnya, perilaku orangutan yang memiliki tingkat keingintahuan dan kecerdasan tinggi merupakan bagian dari perilaku alamiah satwa.
“Kalau untuk itu adalah hal yang satwa orangutan itu sangat curious, rasa ingin tahunya sangat tinggi sekali. Jadi itu sebagai perilaku alamiah,” kata Miyana saat bertemu wartawan, Rabu (19/8/2026).
Ia menjelaskan, Solo Safari memiliki prosedur pemeriksaan secara berkala terhadap satwa. Pengecekan terakhir dilakukan sekitar pukul 14.30 WIB. Saat dilakukan pengecekan berikutnya pada pukul 15.00 WIB, Didi diketahui sudah tidak berada di dalam enclosure.
“Kurang lebih kemarin kita melakukan prosedur per setengah jam. Kita terakhir pengecekan di 14.30, terus kita mau melakukan pengecekan lagi di 15.00 sudah tidak ada di enclosure atau exhibit,” ujarnya.
Tim Solo Safari kemudian melakukan pencarian di area internal. Tidak berselang lama, informasi keberadaan Didi di area luar diterima petugas.
“Kita mencari di internal, terus kita mendapatkan informasi sekitar 15.10 dia di area luar. Jadi kita langsung amankan. Sekitar 15.30 sampai 15.40 sudah kita bawa kembali ke enclosure atau exhibit,” jelas Miyana.
Saat ini, kondisi Didi dipastikan sehat. Pengunjung juga dapat melihat aktivitas orangutan tersebut seperti biasa.
“Teman-teman juga bisa melihat tadi orangutan kami, Didi, alhamdulillah walafiat dan tidak ada kendala apa pun. Bisa dilihat aktivitasnya,” katanya.
Pengamanan Berlapis Tetap Berfungsi
Miyana menegaskan, Solo Safari telah menerapkan sistem pengamanan berlapis sesuai standar operasional prosedur (SOP) Taman Safari Group.
Pengamanan tersebut terdiri dari sejumlah lapisan, mulai dari pagar, pengaman listrik, hingga area penghalang berupa pulau dan danau.
“Kita sudah melakukan pengamanan berlapis sesuai SOP dan prosedur yang sudah berlaku di Taman Safari Group. Di lapisan pertama ada gate, kemudian yang kedua ada electric fence atau kabel elektrik, terus juga ada pulau dan danau,” terang Miyana.
Meski demikian, menurut dia, kecerdasan dan kemampuan orangutan membuat Didi mampu melewati sejumlah penghalang tersebut.
“Sekali lagi, dia sangat curious atau sangat pandai. Satwa ini sangat pandai dan dia bisa melewati barrier-barrier yang sudah kita tentukan,” imbuhnya.
Pihak Solo Safari juga memastikan seluruh peralatan pengamanan telah diperiksa setelah kejadian tersebut, termasuk kabel listrik yang digunakan sebagai salah satu lapisan pengamanan.
“Semua equipment dan peralatan semuanya normal. Kabel listriknya juga normal. Dia bisa melewati itu karena memang kecerdasannya tadi sudah bisa melewati,” ujar Miyana.
Ia menjelaskan, electric fence tersebut bukan untuk melukai satwa, melainkan memberikan efek kejut sebagai bagian dari sistem pengamanan.
“Itu hanya untuk kejut karena memang keutamaan satwa itu yang paling utama. Kita sudah mengikuti SOP yang berlaku, alirannya sekian ampere dan sudah sesuai dengan SOP yang diterapkan,” katanya.
Monitoring Didi Akan Diintensifkan
Sebagai evaluasi, Solo Safari akan meningkatkan intensitas pemantauan terhadap Didi. Pemeriksaan rutin yang selama ini dilakukan setiap pagi sebelum satwa keluar ke exhibit juga akan diperketat.
“Setiap pagi sebelum keluar ke exhibit sudah rutin pengecekan dari pagi hari sebelum mereka atau Didi dan keluarga keluar. Sudah kita pengecekan pagi dan setiap setengah jam kita checking. Di situ situasinya kita akan lebih intens lagi,” jelas Miyana.
Menurutnya, kejadian tersebut juga menjadi bahan evaluasi sekaligus pembelajaran bagi pengelola untuk memahami lebih jauh perilaku orangutan.
“Ini sebagai pembelajaran kami juga dan tentunya perilaku alamiahnya dia, untuk menambah kita mengenai orangutan dan ke depannya supaya meminimalkan kejadian serupa tidak terulang lagi,” katanya.
Miyana menambahkan, tinggi dan kemampuan fisik orangutan juga menjadi pertimbangan dalam pembangunan enclosure. Namun, kecerdasan satwa membuat pengelola harus terus melakukan evaluasi terhadap sistem pengamanan.
“Kita sudah mengikuti orangutan itu punya tinggi badan dan kita sudah mengikuti setinggi badan orangutan tersebut. Ke depan kita akan intensifkan monitoring ke situ supaya kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Didi Kooperatif Saat Dievakuasi
Proses pengembalian Didi ke enclosure berlangsung relatif cepat karena satwa tersebut sudah terbiasa dengan keeper melalui program training and conditioning.
Miyana menyebut Didi sangat kooperatif ketika didekati petugas.
“Kalau dikatakan bisa komunikasi dengan baik, tim kami sangat kooperatif. Makanya dia bisa cepat, kita langsung bisa bawa kembali ke animal keeper di primata,” katanya.
Menurutnya, sifat kooperatif tersebut tidak terlepas dari proses pelatihan dan pembiasaan yang dilakukan secara rutin.
“Itu bentuk dari training and conditioning. Kalau hewan tidak di-training dan di-conditioning di lingkungan kita, pasti takut sama orang dan sebagainya. Kebetulan Didi sudah lama, jadi dia bisa kooperatif,” jelasnya.
Bahkan, kata Miyana, Didi mampu mengenali keeper yang setiap hari merawatnya.
“Dia sangat alamiah sekali dan sudah close. Dia mengikuti apa yang memang kita enrichment atau kita sampaikan ke dia. Jadi dia sangat kooperatif mengikuti apa yang diminta oleh keeper atau animal keeper-nya,” ujarnya.
Solo Safari Apresiasi Respons Masyarakat
Miyana juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang ikut memberikan informasi selama proses pencarian Didi.
“Terima kasih untuk warga masyarakat yang menurut saya cukup kooperatif. Kami dari Solo Safari sangat-sangat berterima kasih sudah berpartisipasi dalam memberikan informasi,” katanya.
Ia juga menanggapi adanya laporan terkait motor warga dan sejumlah fasilitas masyarakat yang terdampak selama Didi berada di luar area exhibit.
Miyana mengatakan pihaknya telah berupaya menghubungi pemilik kendaraan dan mengganti gelas yang pecah di salah satu warung.
“Kita sudah temui pemilik motor. Kebetulan kita akan mereset lagi. Katanya beliau mewajari, tidak protes. Kalau memang ada apa-apa, langsung hubungi kita saja,” ujarnya.
Ia memastikan Solo Safari bertanggung jawab terhadap kejadian tersebut dan menganggap orangutan sebagai bagian dari keluarga besar Solo Safari.
“Kita tahu itu keluarga kami, keluarga Solo Safari. Kami mengucapkan terima kasih banyak atas partisipasi masyarakat, sudah perhatian kepada kami, sangat peduli dengan Solo Safari dan orangutan kami,” kata Miyana.
Enclosure Dibuat Menyerupai Habitat Alami
Miyana menjelaskan, konsep enclosure di Solo Safari memang dirancang agar satwa dapat beraktivitas menyerupai kondisi habitat alaminya. Karena itu, pengelola tidak hanya mengandalkan kandang tertutup.
“Kalau mengikuti SOP yang berlaku, kami setiap hari melakukan pengecekan dari pagi sampai kandang-kandang tersebut. Karena kita memang tidak spesifik membuat kandang, kita ada enclosure atau exhibit yang disetting sedemikian rupa untuk sesuai dengan alam aslinya,” jelasnya.
Sementara pada malam hari, satwa ditempatkan di area holding untuk beristirahat.
“Kalau malam hari mereka kita siapkan holding untuk tidur. Jadi istimewa sebenarnya Indonesia,” pungkas Miyana.








