Pembangunan SMAN 10 Solo Tunggu Hibah Lahan, Camat Laweyan Usulkan Bekas Sekolah Regrouping dan Makam

oleh
SMAN 10 Solo
Ilustrasi makam dan SDN Dukuhan Kerten Solo diusulkan untuk pendirian SMAN 10 Solo | Dok SDN Dukuhan Kerten

SOLO, MettaNEWS – Cabang Dinas Wilayah VII Jawa Tengah menunggu hibah lahan dan bangunan sekolah dari Dinas Pendidikan Kota Solo untuk dijadikan SMAN 10 Solo. Setelah ada hibah, Cabdin Wilayah VII Jateng baru bisa memberikan akta pendirian.

Kepala Cabdin Wilayah VII Jawa Tengah, Agus Triyanto mengatakan pihaknya bersama Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka berenca menghadap Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo terkait rencana pembangunan SMAN 10 Solo.

“Kami dengan Pak Wali rencanakan ke sana (ketemu Gubernur Jateng). Karena melihat animo masyarakat yang keinginannya untuk sekolah negeri. Karena di sana belum ada sekolah negeri yang ada hanya swasta,” ujar Agus kepada MettaNEWS lewat sambungan telepon, Jumat (14/7/2023).

Hadirnya SMAN 10 Solo ini diharapkan mampu meningkatkan mutu dan akses pendidikan di Kota Solo. Pihaknya optimis rencana ini dapat terwujud apabila masih ada lahan yang akan dihibahkan ke Provinsi Jawa Tengah.

“Kaitannya memperluas akses pendidikan memang kerinduan masyarakat mintanya negeri. Sebenarnya kalau di balik itu semua swasta juga berperan penting. Sekolah swasta sampai sekarang masih eksis karena pengelolaannya baik, tidak asal-asalan, SDM-nya oke, sarana prasarananya memadai, dan banyak yang sekolah swasta itu nggak gelo,” ujar Agus.

Pihaknya juga berharap proses pembangunan SMAN 10 Solo dapat secepat SMAN 9 Solo di Kecamatan Pasar Kliwon.

“Kalau yang SMA 9 luar biasa prosesnya lumayan cepat. Di sini bersyukur support dari Wali Kota Solo dan masyarakat untuk berdirinya SMAN 9 Solo dalam waktu secepat itu prosesnya jadi sekolah. Prosesnya membutuhkan waktu beberapa tahun tetapi yang kemarin butuh waktu sebelum PPDB 2 minggu jadi. Tapi proses awalnya sama membutuhkan beberapa tahun, nanti yang SMA 10 juga membutuhkan waktu juga nanti kalau sudah kita tindak lanjuti,” paparnya.

Cabdin Wilayah VII Jateng juga belum dapat memastikan apakah SMAN 10 Solo bisa membuka pendaftaran di PPDB 2024. Selain lahan bangunan sekolah, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dan juga sarana prasarana (sarpras) sangat dibutuhkan untuk berdirinya sebuah SMAN baru.

“Sampai saat ini belum ada penjelasan sampai sana (PPDB 2024). Yang terpenting saat ini lahannya dulu untuk hibah dari Dinas Pendidikan Kota Solo ke Provinsi Jateng. Dan SDM-nya perlu dibutuhkan bapak ibu gurunya kalau bapak ibu guru SDM, sarprasnya belum disediakan kami tidak berani bilang buka kapan,” terangnya.

Sodorokan 5 Lokasi untuk SMAN 10 Solo

Sementara itu, Camat Laweyan, Endang Sabar memebeberkan pihaknya telah diminta Pemerintah Kota Solo untuk mencari lahan seluas 3.000 hingga 5.000 meter untuk pendirian SMAN 10 Solo ini.

“Sudah ada komunikasi dari Pemkot Solo, kemarin saya disuruh cari untuk calon lokasinya. Sudah saya sampaikan beberapa alternatif buat dieksekusi lebih dari lima. Ada lahan sekolah, makam,” ujarnya.

Pihaknya menyodorkan beberapa sekolah dasar yang sudah diregrouping. Di antaranya SDN Purwosari, SDN Dukuhan Kerten, Makam Norowongso Pajang dan Makam Jurumartenan Purwosari.

“Luasannya paling tidak 3 ribu sampai 5 ribu meter untuk SMAN. Nanti kalau sudah nunggu arahan dari Pemkot Solo karena mereka yang menentukan. Belum disurvei kita baru disuruh kasih pandangan kira-kira mana,” paparnya.

Belum ada pembicaraan kapan sekolah ini akan dibangun dan siap di buka saat PPDB kapan. Yang pasti masyarakat sangat menyambut baik rencana pembangunan SMAN 10 Solo. Sebab masalah ini sudah menjadi problematika tahunan sejak PPDB pertama tahun 2018.

“Mintanya segera karena kan kasihan warga Laweyan musim PPDB terutama SMA harus zonasi sistemnya mereka nggak bisa massuk SMAN kalah sama yang pinggiran. Jadi larinya kebanyakan swasta ya SMA pinggiran seperti SMAN 1 Kartasura pada ngeluh,” katanya.

Tiap tahunnya mereka yang tersingkir dari jalur zonasi SMAN 4 Solo dan SMAN 7 Solo harus merelakan diri mendaftar ke SMAN pinggiran seperti SMAN 1 Kartasura dan SMAN 2 Sukoharjo.

“Ya biar mereka bisa sekolah di Solo saja nggak ke sekolah pinggiran keluar daerah. Kalau SMAN 7 dekat perbatasan dengan Laweyan SMA 4 juga tapi ternyata sedikit yang bisa diterima di sana. Ya tetap kalah kalau zonasi, makanya masyarakat pengin ada SMAN di Laweyan biar sekolah di Solo,” tandasnya.