SMA Negeri Masih Jadi Primadona, Cabdin Wilayah VII Jateng: Masyarakat Sukanya yang Gratis

oleh
SMA
Ilustrasi SMAN di Kota Solo | Dok SMAN 6 Solo

SOLO, MettaNEWS – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) masih menjadi primadona tiap Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Kepala Cabang Dinas Wilayah VI Jawa Tengah, Agus Triyanto mengatakan sebanyak 75 persen dari 11.300 lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat memilih masuk SMAN ketimbang SMA swasta maupun Sekolah Mnenegah Kejuruan (SMK).

Agus menyebut faktor biaya menjadi alasan utama SMAN masih menjadi primadona di kalangan masyarakat. Tak sedikit orangtua yang memilih SMAN karena gratis.

“Masyarakat sukanya yang gratis, kalau swasta gratis mungkin juga pada lari ke sana. Tapi saya percaya swasta juga nggak kalah mutunya dengan di negeri,” ujar Agus kepada MettaNEWS lewat sambungan telepon, Jumat (14/7/2023).

Menurutnya, banyak sekolah-sekolah swasta yang justru melebihi negeri. Hal ini dilihat dari pengelolaan, manajemen, Sumber Daya Manusia (SDM) dan sarana prasarananya.

“Saya percaya ada keunggulan tersendiri jadi daya tarik masyarakat ke sana (swasta). Kalau bagi saya pendidikan tidak hanya yang negeri tapi swasta juga harus diutamakan. Bagaimana swasta itu dimaksimalkan, kepala sekolah swasta harus kreatif membuat sekolah swasta juga menjadi ikon keunggulan sekolah yang lain. Sehingga peserta didik tidak hanyamembidik sekolah negeri saja tapi swasta juga dirindukan,” terangnya.

Agus juga menepis anggapan bahwa di Kota Solo kekurangan SMAN. Sebab jika saja mau melirik SMA swasta maupun SMK, masalah siswa yang tidak lolos PPDB tidak akan terus berulang setiap tahunnya. Untuk tahun ini sekolah swasta hanya menerima 25 persen lulusan SMP sederajat sedangkan 75 persennya memilih ke SMAN.

“Sebenarnya sudah memenuhi target yang di Solo. Kalau dibilang kurang SMAN enggak, SMA swasta yang bonafit pengelolaannya baik muridnya banyak itu juga ada. Jadi tidak ada anak yang tidak bisa sekolah itu kurang logis kalau dilihat dari lulusan SMP sederajat yang masuk negeri aja 8 ribu. Kembali ke masyarakat lagi carinya yang gratis,” ujarnya.