Tingkat Kenakalan Remaja di Solo Tinggi, Terutama Pelanggaran Lalu Lintas dan Knalpot Brong 

oleh
Kenakalan remaja mengunakan knalpot brong
Kasatlantas Polreta Solo Kompol Agung Yudiawan memperlihatkan banyaknya motor menggunakan knalpot brong di Wilayahnya Solo Kamis (1/6/2023) | Dok: Satlantas

SOLO, MettaNEWS – Kenakalan di tingkat remaja khususnya kalangan pelajar saat ini sangat memprihatinkan terutama penggunaan Knalpot Brong, hal tersebut Kasatlantas Polreta Solo Kompol Agung Yudiawan katakan saat berada di Polresta Solo Kamis (1/6/2023).

Selain itu, kenakalan di tingkat remaja ini juga melawan hukum dengan tidak taat terhadap aturan lalu lintas dalam berkendara.

“Mayoritas, pelanggar lalu lintas seperti knalpot brong ini di kalangan remaja,” terang Kasatlantas Polresta Solo, Kompol Agung Yudiawan, Kamis (1/6/2023).

Dari data tiga bulan terakhir tercatat ada sebanyak 544 pelanggar lalu lintas di kalangan remaja.

“Rinciannya, Bulan Maret 286 pelanggar. Sedangkan, di Bulan April 212 pelanggar dan di Bulan Mei mencapai 46 pelanggar lalu lintas. Ini yang kategori anak di bawah umum atau pelajar,” terang Agung.

Terkait dengan data tersebut, pihaknya telah melakukan sosialisasi ke sejumlah sekolah untuk menekan tingkat pelanggaran lalu lintas.

“Tentunya sangat memprihatinkan, jika melihat data tersebut. Sehingga, kami terus berupaya untuk melakukan sosialisasi guna menekan angka pelanggar lalu lintas di kalangan remaja khususnya knalpot brong,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bapas Kota Solo, Susana mengatakan, bahwa kenakalan remaja terjadi lantaran pengaruh dari banyak faktor. Baik dari faktor internal maupun eksternal keluarga.

“Namun, biasanya yang paling banyak berperan adalah internal keluarga itu sendiri. Jika di tingkat keluarga sudah ada masalah, tentunya anak akan mencari jati dirinya sendiri,” kata Susana.

Pihaknya berharap, untuk mengantisipasi hal itu peran keluarga sangat penting. Dengan kuatnya peran keluarga, tentunya dapat menangkal efek eksternal yang memiliki nilai negatif.

“Kalau faktor internalnya sudah kuat, maka anak akan memiliki prinsip bahwa ini lho yang baik. Tak sekadar ikut-ikutan teman saja. Apalagi yang negatif,” katanya.