Semangat Penyandang Tunanetra Masjid Nurul Huda Laweyan, Tadarus Al Qur An Braille hingga Kajian Ramadan

oleh
Al Qur'an Braille
Tadarus bersama Al Qur'an braille penyandang tunanetra Masjid Nurul Huda, Balai Rehabilitasi Sosial Disabilitas Netra Bhakti Candrasa, Laweyan, Solo, Rabu (13/4/2022) | MettaNEWS /Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Untuk mengisi waktu di bulan Ramadan, para penyandang tunanetra menggelar tadarus bersama menggunakan Al Qur’an braille di Masjid Nurul Huda Balai Rehabilitasi Sosial Disabilitas Netra Bhakti Candrasa, Laweyan, Solo, Rabu (13/4). Kegiatan yang dilaksanakan setiap selesai salat zuhur ini dipimpin oleh pengajar Panti Sosial Disabilitas Sensorik Bhakti Candrasa, Sartono.

Sartono menyebut setiap harinya target pembacaan Al Qur’an ini dilakukan sebanyak 4 hingga 6 ayat sesuai dengan penjadwalan. Sementara itu, kegiatan lain saat Ramadan juga diisi dengan berbagai kegiatan salah satunya kajian yang menyesuaiakan dengan ayat Al Qur’an yang dibaca. Sartono menuturkan kajian-kajian tersebut diisi dengan beberpa materi seperti ilmu tauhid, akidah, fiqih, akhlak, Al Qur’an dan sejarah.

“Kegiatan lembaga ini baik di bulan Ramadan maupun diluar bulan ini, kegiatan keagamaan selalu diadakan. Waktunya sehabis zuhur ada tadarus bersama dan kajian, setelah Maghrib ada kajian juga untuk anak-anak baik sendiri atau ada yang membimbing terutama saat sore harinya,” tutur Sartono.

Selama bulan Ramadan juga terdapat kegiatan khusus seperti tarawih, kultum yang diperbanyak setelah pelaksanaan salat subuh, zuhur, santapan rohani menjelang Maghrib dan belajar malam usai salat Isya.

Tidak hanya di Solo, sebanyak 50 penyandang tunanetra yang tergabung dalam panti sosial ini berasal dari berbagai daerah seperti Banyumas, Tanggerang hingga Sulawesi dengan rentang usia yakni 15 tahun hingga 45 tahun. Dengan waktu belajar selama 2 hingga 3 tahun, Sartono berharap apa yang didapatkan di lembaga ini dapat bermanfaat untuk kehidupan para penyandang maupun masyarakat.

“Untuk keseluruhannya ada 50 tapi ada yang izin pulang sedang sakit, menengok orangtua juga, jadi kami izinkan karena setiap 2 bulan sekali memang ada jadwal. Untuk usia produktifnya 15 sampai 45 tahun tapi karena ada juga yang terkendala kondisi, ada yang belum tertangani jadi ada yang usianya hampir 50 tahun. Setelah lulus dari lembaga ini diharapkan bisa mandiri karena sudah mendapatkan pembelajaran, psikis, pembentukan karakter, pembimbingan mental serta agama,” sebutnya.

Tidak hanya kegiatan kegamaan saja, di Lembaga Panti Sosial Disabilitas Sensorik Bhakti Candrasa juga terdapat kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dimulai sejak pukul 07.30 WIB di bulan Ramadan.

“Untuk anak-anak sudah persiapan untuk KBM pelajaran umum sampai 11.30 WIB, PPKN, Bahasa Indonesia, IPA, baca tulis, praktek masak, cara berjalan yang benar, cara mencuci, kemandirian, cara menolong diri sendiri dan juga keterampilan penyembuhan sport massage, general massage, shi-atsu, kebugaran, therapy zona dan herbal untuk penyembuhan yang bisa digunakan di masa depan,” pungkasnya.