SOLO, MettaNEWS— Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) membubuhkan tanda tangan pada buku monografi berjudul “Otentikasi Ijazah Joko Widodo” karya ahli digital forensik Rismon Sianipar saat menerima kunjungan Rismon di kediamannya di Solo, Jawa Tengah, Rabu (17/6/2026).
Buku setebal sekitar 800 halaman tersebut membahas kajian mengenai keaslian ijazah Jokowi sekaligus menjadi bantahan terhadap buku sebelumnya bertajuk “Jokowi’s White Paper”.
Kuasa hukum Rismon Sianipar, Jahmada Girsang, mengatakan penandatanganan buku oleh Jokowi menjadi sebuah kejutan sekaligus menandakan bahwa mantan presiden itu telah memahami isi buku tersebut.
“Jadi pertama kita sudah bicara di dalam tentang buku ini. Dan saya mau kasih tahu kejutan Pak Jokowi tanda tangan. Jarang loh seperti ini. Artinya Pak Joko Widodo sudah paham isinya dan buku ini segera dipublish, dicetak sesuai dengan yang kita inginkan,” kata Jahmada seusai mendampingi Rismon bertemu Jokowi.
Menurut Jahmada, kedatangan Rismon kali ini merupakan pertemuan kedua dengan Jokowi. Pertemuan pertama berlangsung pada 12 Maret 2026 terkait restorative justice dalam perkara dugaan fitnah ijazah.
Ia menjelaskan, setelah pertemuan tersebut, Rismon menerima surat perintah penghentian penyidikan (SP3) dari Polda Metro Jaya.
“Tanggal 14 April hampir sebulan kemudian Rismon mendapat SP3. Artinya, Rismon otomatis sudah keluar dari perkara tentang ijazah yang disebut dulu palsu. Sejak saat itu seharusnya secara hukum Rismon ini sudah free, ibarat burung sudah terbang ke mana-mana,” ujarnya.
Namun demikian, lanjut Jahmada, Rismon merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan hasil kajian ilmiahnya secara terbuka kepada publik dan kepada Jokowi secara langsung.
Ia menyebut buku “Otentikasi Ijazah Joko Widodo” disusun sebagai respons atas polemik yang sebelumnya berkembang melalui buku “Jokowi’s White Paper”.
“Tapi Rismon ini mempunyai beban moril yang tinggi. Khususnya kepada pribadi Pak Joko Widodo. Apa itu, buku yang pertama Jokowi’s White Paper yang isinya ada berapa halaman itu dari dokter Tifa, 480 halaman dari Rismon, 48 halaman dari Roy Suryo. Itu sepertinya buku yang tidak ilmiahlah. Akhirnya Rismon buat sendiri yang terbaru Otentikasi Ijazah Pak Joko Widodo,” bebernya.
Jahmada menyampaikan buku tersebut dikerjakan Rismon selama sekitar tiga hingga empat bulan, bahkan dimulai sebelum SP3 diterbitkan oleh Polda Metro Jaya.
Ia menegaskan, isi buku terbaru tersebut menyimpulkan bahwa ijazah Jokowi asli.
“Isinya menegakkan kembali yang tadi palsu jadi asli. Tadi dijelaskan ke Pak Jokowi dan Pak Jokowi benar-benar menerima secara logika,” katanya.
Sementara itu, Rismon Sianipar mengatakan buku tersebut akan diterbitkan dan didistribusikan ke berbagai perpustakaan di Indonesia sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah.
“Bahwa ini semata-mata adalah karya yang tunduk pada kaidah-kaidah ilmiah, bukan tunduk pada afiliasi politik, kebencian, ketidaksukaan, dan segala macam. Jadi pertanggungjawaban saya kepada publik terutama publik yang memiliki kajian yang relevan dengan kajian saya yaitu teknik elektro, teknik informatika,” papar Rismon.
Ia berharap buku tersebut dapat menjadi objek kajian akademik dan penelitian, bukan sekadar perdebatan di media sosial.
“Ketika bukunya didistribusikan ke perpustakaan seluruh Indonesia, itu akan menjadi objek kajian seluruh peneliti. Bukan menjadi bahan bullyan di media sosial. Kita tidak butuh itu. Yang paling melekat kita tempatkan buku ini di komunitas ilmiah sesuai dengan relevansinya. Supaya ini diselesaikan di dunia akademik juga,” pungkasnya.








