JAKARTA, MettaNEWS – Latolato menjadi fenomena baru permainan, tak hanya dimainkan orang dewasa namun juga anak-anak.
Sub Komisi Pengaduan KPAI Periode 2022-2027, Dian Sasmita, SH. MH. angkat bicara soal permainan Latolato ini.
Dian menyebut permainan sederhana ini sebenarnya bukan hal baru, karena jaman dia kecil juga sudah ada. Hanya tidak semarak sekarang.
“Anak bermain latolato, bermain kelereng, bermain layangan, sama-sama membutuhkan skill khusus. Latihan yang berulang-ulang akan membuat mereka terampil,” kata Dian.
Selama latihan tersebut, jika ada goresan atau kapalan karena permainan, adalah wajar.
“Saya sangat menghargai keterampilan memainkan Latolato. Karena saya pribadi memainkannya pun tak langsung bisa.
<span;>Butuh koordinasi gerak tangan yang stabil dan konsentrasi,” ujar Dian.
Bermain Latolato, lanjut Dian tak sesederhana suaranya.
“Maraknya anak-anak memainkan Latolato yang kemudian kebablasen karena dilakukan di semua tempat, tak sepenuhnya salah anak,” ungkap Dian.
Namun marak di media sosial ancaman bahaya dari permainan Latolato ini. Untuk mengantisipasi terjadinya resiko pada.anak-anak akibat dari permainan Latolato ini Dian mengatakan perlu keterlibatan beberapa pihak.
“Setiap aktivitas anak, apapun itu, orang tua atau pengasuh wajib tahu dan membersamai untuk menjelaskan bahaya dan resikonya. Kemudian mengarahkan anak ke arah yang positif. Semua permainan yang membuat anak senang, mereka pasti akan memainkan dengan serius dan senang. Seperti halnya game online,” tutur Dian.
Dian menyebut disinilah letak peran orang tua atau pengasuh yang tidak boleh abai.
“Kenalkan anak dengan adab atau etika bermain agar anak paham bahwa tidak semua tempat dapat dijadikan ruang bermain. Bermain Latolato dengan anak dapat membangun kelekatan antara anak dan orang tua. Selama 15 menit bermain dengan anak akan membuat mereka menjadi anak lebih gembira. Karena anak merasakan kehadiran orang tuanya secara utuh,” jelas Dian.
Menurut Dian, Pemerintah, seperti sekolah atau dinas kebudayaan atau pariwisata, dapat mewadahi kreatifitas anak terhadap permainan Latolato.
Misalnya lomba menggambar di Latolato, atau membuat instalasi dari Latolato, atau mural dengan tema Latolato.
“Artinya, Pemerintah perlu sadari bahwa setiap anak membutuhkan dan punyak hak untuk bermain. Namun apakah pemerintah setempat sudah memfasilitasi ruang bermain ramah anak? Jadi, jangan terburu-buru melarang anak bermain. Temani anak bermain. Karena fase tumbuh kembang anak akan optimal jika mereka dapat bermain dengan gembira dan aman. Ayo main Latolato dengan anak di rumah,” pungkas Dian.







