SOLO, MettaNEWS – Presiden Joko Widodo saat keluar dari Gedung Agung, Istana Presiden Yogyakarta, akhir pekan lalu bersama cucu-cucunya terlihat membawa mainan yang lagi in Lato-lato.
Sambil menggandeng Jan Ethes Srinarendra, Presiden Jokowi dan La Lembah Manah memegang mainan jadul yang kembali in tersebut.
Namun, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming melarang anak-anaknya bermain Lato-lato. Ditemui di kantornya di komplek Balai Kota Surakarta, Senin (9/1/2023), Gibran mengatakan anaknya belum bisa bermain.
“Enggak belum bisa main, Jan Ethes saya larang. Berisik. Jadi jangan sampai bisa,” tegas Gibran.
Gibran juga meminta pada wartawan untuk melarang anak-anaknya bermain Lato-lato.
“Kandanana (beritahu) anak-anakmu jangan main Lato-lato. Aku juga ga tahu kok ngerti-ngerti punya barangnya,” ungkap Gibran.
Gibran pun menyebut tren mainan Lato-lato ini tidak akan bertahan lama.
“Paling sebulan lagi juga sudah pada bosan,” tandasnya.
Mengenai adanya guru yang melarang muridnya membawa Lato-lato ke sekolah, Gibran mengatakan tindakan tersebut sudah tepat.
“Segala jenis mainan kan memang dilarang dibawa ke sekolah. Ya terserah gurunya. Pokoknya jangan ganggu kegiatan belajar mengajar gitu aja,” tegasnya lagi.
Lato-lato, Tak Sepenuhnya Kesalahan Anak
Sementara itu, Sub Komisi Pengaduan KPAI Periode 2022-2027, Dian Sasmita menambahkan maraknya anak-anak memainkan Lato-lato yang kemudian kebablasan karena dilakukan di semua tempat, tak sepenuhnya salah anak.
“Setiap aktivitas anak, apapun itu, orang tua atau pengasuh wajib tahu dan membersamai untuk menjelaskan bahaya dan risikonya. Kemudian mengarahkan anak ke arah yang positif. Semua permainan yang membuat anak senang, mereka pasti akan memainkan dengan serius dan senang. Seperti halnya game online,” tutur Dian.
Menurut Dian, Pemerintah, seperti sekolah atau dinas kebudayaan atau pariwisata, dapat mewadahi kreativitas anak terhadap permainan ini.
Misalnya lomba menggambar, atau membuat instalasi, atau mural dengan tema Lato-lato.
“Artinya, Pemerintah perlu sadari bahwa setiap anak membutuhkan dan punyak hak untuk bermain. Namun apakah pemerintah setempat sudah memfasilitasi ruang bermain ramah anak? Jadi, jangan terburu-buru melarang anak bermain. Temani anak bermain. Karena fase tumbuh kembang anak akan optimal jika mereka dapat bermain dengan gembira dan aman,” pungkas Dian.








