SOLO, MettaNEWS – Tak jauh dari pintu masuk Sekaten Alun-alun Utara Solo, Risa (32) menjajakan puluhan mainan kapal otok-otok berwarna-warni. Di atas meja sedang itu dua ukuran kapal ia jual seharga Rp 20.000 untuk ukuran kecil dan Rp 25.000 untuk ukuran besar.
Selama sebulan kedepan Risa akan setia menjual mainan jadul di tengah hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang sejak pagi hingga malam hari. Sembari menunggu dagangannya, Risa sibuk menata kapal berwarna hitam, biru dan ungu. Berharap ada anak kecil yang melirik mainan yang ia bawa dari kampung halaman, Blok Tegalan, Desa/Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. Tempat perajin mainan kapal-kapal otok-otok ini berasal.
“Sudah 3 hari ini jualan di sini (Sekaten) jualan kalau ada Sekaten kalau nggak ada ya nggak jualan, dari pembukaan sampai terakhir event,” kata Risa kepada MettaNEWS, Selasa (20/9/2022).
Penghasilannya tak menentu, Risa biasanya membawa 100 hingga 200 biji kapal otok-otok. Meski sudah tertera harga pas, tawar menawar tetap tak terelakkan. Sehingga dirinya harus rela memberikan harga di bawah yang ditentukan. Alhasil ia biasanya melepas satu kapal otok-otok berukuran kecil seharga Rp 15.000.
Selama Sekaten, ia mengontrak bersama suami dan 50 rombongan mainan kapal otok-otok yang terbagi di Alun-alun Utara dan Selatan. Selama itu pula ia menggantungkan hidupnya dari penghasilan yang sehari-harinya ia dapat menjual sekitar 10 kapal saja. Itu pun masih dibagi dengan sang tuan.
“Yang kecil Rp 20.000 yang besar Rp 25.000 kalau ada yang nawar Rp 15.000 saya kasih, bagi hasil sama bosnya, sekarang masih sepi 10 biji kalau jualan nggak menentu kadang ramai kadang sepi. Ya kadang habis kadang masih ada tergantung ramai enggaknya, yang banyak laku yang kecil besat sama saja,” terangnya.
Dari jumlah yang ia bawa juga tak selalu habis. Terkadang ia harus membawa kembali kapal otok-otoknya pulang ke kampung halaman. Cara beroperasi kapal otok-otok sangat mudah. Pembeli akan mendapat satu buah corong seng kecil untuk mengisi air ke selang kapal. Setelahnya kapas diberi minyak goreng dan diletakkan di dalam kapal.
Selanjutnya kapas diberi nyala api lalu diletakkan di dalam wadah berisi air, maka kapal otok-otok akan dengan sendirinya berputar-putar di atas air. Sederhana namun mengasikkan.
“Selang kapalnya dikasih air dulu sampai penuh terus sumbunya dikasih terus dinyalain nanti jalan sendiri, dikasih corong buat masukin air setiap pembeli dijelasin dikasih tahu kalau nggak dikasih tahu langsung dikasih api terus ditaruh di air makanya cepet rusak kobong (kebakar) yang di dalamnya,” kata Risa.
Mainan yang satu ini dapat bertahan lama jika cara mengoperasikan tepat. Maka dari itu Risa memberikan tutorial atau penjelasan ke setiap pembeli agar kapal otok-otok awet.
“Tergantung orangnya aslinya mah awet ini kalau langsung dinyalain apinya ya cepet rusak tergantung pemakaiannya , muternya kalau apinya mati berhenyi kalau apinya nyala ya nyala terus,” tuturnya.
Kapal otok-otok terus berputar-putar di atas air saat kapas yang sebelumnya diberi minyak goreng tidak kering. Selain itu penting pula untuk memperhatikan besaran angin agar api tak mati.
“Nggak nentu (lama muternya) kalau minyak gorengnya kering ya dikasih lagi jalan lagi, kalau minyak gorengnya kering ya berhenti apinya mati tinggal isi ulang, bahan bakarnya harus minyak goreng,” terangnya.
Tentu masih membekas di ingatan, sewaktu kecil anak-anak menggunakan kertas untuk membuat kapal-kapalan. Nah pada saat itu, kehadiran kapal otok-otok menjadi mainan kapal yang sangat modern.
Namun kini di tengah perkembangan zaman, keberadaan kapal otok-otok berbahan seng digeser dengan hadirnya mainan yang lebih canggih. Meski demikian, Risa memilih tetap bertahan dengan kapal otok-otoknya itu selama 20 tahun.
“Kalau dibanding yang dulu ya mendingan yang dulu laris banget sekarang ya tergantung rezeki saja,” tutupnya.








