SOLO, MettaNEWS – Produk derivatif, waran terstruktur mulai dilirik investor pasar modal. Terbukti, jumlah transaksi per harinya mencapai Rp 1,5 hingga Rp 8 miliar.
Angka yang cukup fantastis untuk produk turunan saham yang baru berumur 2,5 tahun. Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Jateng 2, M Wira Adibrata menyebut waran terstruktur merupakan produk alternatif non saham yang bagus untuk mendapatkan keuntungan.
“Produk ini sangat bagus sekali khususnya untuk yang suka trading. Karena ini untuk kita bisa membeli kontrak harga saham yang tinggi dengan harga yang murah. Ini adalah produk yang bisa kita manfaatkan ketika harga saham lagi turun kita bisa mendapatkan keuntungan,” jelasnya.
Melalui roadshow produk IDX 2025, ia mendorong masyarakat Solo untuk memanfaatkan peluang mendapatkan cuan (keuntungan-red) dari waran terstruktur ketika pasar sedang turun.
“Kita bisa memiliki kesempatan untuk menjual barang, menjual saham memprediksi ketika harga saham turun. Padahal kita belum pegang sahamnya ini, kita beli warannya terstrukturnya aja. Ketika harga warannya turun kita bisa mendapatkan keuntungan,” terang dia.
Hadir sebagai narasumber, Sales and Marketing RHB Sekuritas Triana Anggraeni mengatakan waran terstruktur adalah peluang untuk kemajuan pasar modal di Solo.
“Waran terstruktur ini adalah efek atau instrumen turunan saham yang diterbitkan oleh perusahaan sekuritas yang memberikan hak kepada si pembeli. Di mana pembeli ini bisa membeli atau menjual pada harga dan waktu dalam jangka pendek,” jelasnya.
Triana optimis transaski waran tertsruktur akan meningkat seiring diadakannya roadshow IDX 2025, tidak hanya di Solo namun kota-kota besar lainnya.
Senior Analyst BEI, Virgilius Tridian Caraka menambahkan, regulasi waran terstruktur telah dijamin di dalam BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Waran terstruktur sudah ada regulasinya di BEI dan OJK dengan proper. Walaupun selalu ada regulasi yang coba kita sesuaikan dengan pengembangan waran terstruktur di masa depan biar lebih baik lagi, dari segi regulasi sudah lengkap baik dari OJK BEI,” terangnya.
Di awal peluncurannya pada 2022, waran terstruktur hanya mampu menarik satu perusahaan sekuritas untuk menjadi penerbit. Namun tak butuh waktu lama, jumlah penerbit terus bertambah hingga lima perusahaan.
Kehadiran waran tertsruktur rupanya mampu menarik minat investor muda di usia di bawah 35 tahun.
“Mayoritas investor anak muda, 35 tahun ke bawah kalau kita lihat statistiknya. Dan memang kebanyakan investor ritel, waran terstruktur ini siapapun yang sudah bisa jual beli saham, dia langsung bisa jual beli waran terstruktur,” ujarnya.
Tercatat jumlah investor mencapai 349 di 2024, diharapkan jumlahnya akan meningkat setiap tahunnya untuk mendorong pertumbuhan alternatif non saham di Indonesia.








