SOLO, MettaNEWS – Tingkatkan sinergitas di Jawa Tengah, DPR RI dalam hal ini TVR (TV dan Radio) Parlemen gelar Lokakarya bersama Pimpinan Redaksi dan Manajemen TV dan Radio, Kamis (23/2/2023). Hadir pada lokakarya tersebut Anggota Komisi III DPR RI Eva Yuliana. Eva menyebut lokakarya ini penting untuk sinergitas antara TVR Parlemen dengan media TV dan radio di Jawa Tengah khususnya Surakarta.
“Kami merasa penting sekali adanya sinergitas. Karena parlemen adalah tempatnya memproduksi kebijakan-kebijakan yang pemerintah akan melaksanakannya,” ujar Eva usai acara.
Selain itu, lanjut Eva, Parlemen juga menjadi tempat yag memberikan pengawasan pada jalannya pemerintah, juga tempat untuk Menyusun anggaran-anggaran yang dijalankan pemerintah.” Terang Eva.
Dengan tiga hal tersebut, Eva memandang perlu bila informasi tersebut sampai ke masyarakat bahkan ke tingkat yang paling dasar.
“Jadi dalam 3 hal itu saja yang terkait dengan peran dan fungsi DPR. Tiga hal itu yang seharusnya bisa sampai ke semua lapisan masyarakat. Yang menyapaikan adalah pahlawan informasi yakni rekan pers. Ini akan menajdi baik atau menjadi buruk tergantung bagaimana pengemasan dan penyampaian pada masyarakat,” ungkap Eva.
Eva mencontohkan beberapa kebijakan yang mestinya informasi tersebut sampai ke masyarakat.
“Seperti keputusan soal besarnya biaya haji. Masyarakat tidak tahu soal itu, padahal parlemen siang dan malam membahas itu dengan mitra pemerintah. Juga komisi saya yang membidangi hukum, keamanan dan HAM. Bagaimana DPR memonitor jalannya atau kinerja Polri misalnya. Kemudahan-kemudahan dengan monitor anggota DPR. Hal-hal semacam ini yang perlu sampai ke masyarakat . soal produk-produk kebijakan apa saja yang telah berhasil lahir. Yang kemudian masyarakat dengan mudah bisa langsung mengaksesnya,” bebernya.
Pada kesempatan tersebut juga muncul pertanyaan mengenai konsep atau kemasan informasi dengan konsep milenial agar bisa sampai pada generasi saat ini.
“Ada masukan untuk membuat parlemen lebih milenial. Media punya tugas mengedukasi masyarakat. Ini menjadi tantangan bagaimana membuat sebuah kebijakan negara, dengan kemasan apik sehingga milenial tidak alergi menerima informasi parlemen. Menjadi tugas kita bersama untuk mengemas informasi sesuai selera-selera milenial,” pungkas Eva.







