SOLO, MettaNEWS – Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka secara tegas menyatakan tidak takut dengan siapapun atau apapun yang mempermaslahkan pemasangan ornamen berupa lampion keagamaan Tionghoa maupun Nasrani.
Putra sulung Presiden Jokowi itu menegaskan bahwa ia ingin Kota Solo jadi Kota Toleransi. Oleh sebabnya ia berharap perayaan Natal maupun Imlek selanjutnya bisa lebih meriah dan besar lagi.
“Mudah-mudahan nanti Natal 2023 dan Imlek 2024 kita bikin yang lebih karena itu terimakasih panitia sudah membuat ornamen-oranamen seperti ini jadi UMKM itu kecipratan semua. Semoga apa yang sudah kita lakukan 2 bulan ini bisa jadi contoh kota lain,” kata dia saat menghadiri perayaan Natal Bersama, Jumat (13/1/2023).
Setelah pemasangan ornamen Natal sepanjang Jalan Jenderal Sudirman-Gladag pada Desember 2022. Kini jalan tersebut kembali berwarna dengan pemasangan lampion Imlek 2023.
Ribuan warga setiap harinya terus berdatangan untuk melihat kemeriahan ini. 300 an pedagang kaki lima (PKL) juga tampak memadati ruas jalan selama car free night (CFN) Imlek 2023.
Keramaian ini pula yang membuat Gibran rela dua kali menyusuri kepadatan Jalan Jendsu-Gladag sebelum menghadiri perayaan Natal Bersama di Balai Kota Solo, Jumat (13/1/2023) malam.
Kemeriahan Ornamen Imlek 2023
Dirinya yang terlambat pun meminta maaf kepada hadirin yang datang.
“Bapak ibu mohon maaf tadi saya sedikit terlambat karena tadi saya sengaja muterin Gladag dulu dua kali untuk melihat suasana menyambut Imlek tahun 2023 ini,” kata dia.
Menurut Gibran rangkaian Imlek luar biasa. Hingga dampaknya begitu tinggi ke pelaku ekonomi.
“Serangkaiannya luar biasa sekali UMKM nya juga luar biasa sekali banyak pedagang banyak anak-anak yang berlarian di rumput Balai Kota padahal itu rumputnya baru saya perbaiki. Tapi nggak papa, karena memang suasananya bagus, dari depan sampai belakang terisi penuh semuanya luar biasa sekali,” ujarnya.
Gibran mengatakan langkah berani yang ia ambil bukan tanpa sebab. Ia kembali menegaskan bahwa Solo bisa jadi contoh Kota Toleransi kebhinekaan bagi kota lain di Indonesia.
“Ini luar biasa sekali semua bisa merasakan dampaknya. Jadi semoga Kota Solo ini akan jadi percontohan jadi barometer kota toleransi seluruh warga yang ada di sini,” ujarnya.








