Sempat Ingin Pulang di Putaran Final, Simak Cerita Menggelitik Lurah Kepatihan Wetan Bisa Juara III Lomba Pidato Konstitusi

oleh
Lurah
Sutrisno, Lurah Kepatihan Wetan, Jebres, Solo, juara III lomba Pidato Konstitusi se eks Karesidenan Surakarta. | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Ada cerita unik di balik sosok Sutrisno, Lurah Kepatihan Wetan yang berhasil meraih juara III di Lomba Pidato Konstitusi Antar-Lurah/Kepala Desa se-eks Karesidenan Surakarta, Tahun 2022, Sabtu (18/6/2022) di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram Fakultas Hukum  Universitas Sebelas Maret. Meski telah berlalu, Sutrisno masih tak menyangka dirinya dapat berada di tiga besar.

Bagaimana tidak, kegiatan yang digelar Mahkamah Konstitusi (MK) dan FH UNS ini memiliki banyak tahapan penyisihan. Di mana sebanyak 405 peserta bersaing pada babak penyisihan melalui video pidato berdurasi 7–10 menit. Dengan tema Implementasi Pancasila, Sutrisno terpilih menjadi salah satu dari 75 video terbaik untuk diikutsertakan pada Babak Semifinal.

“Saya tidak menyangka, di H-2 saya mempersiapkan materi di tanggal 6 Juni sebelum tanggal 8 Juni penutupan. Kemudian saya minta teman mendokumentasikan dan mengirim ke panitia, beberapa hari setelah penutupan saya dinyatakan lolos seleksi semi final,” terang Sutrisno saat ditemui MettaNEWS di Kantor Kelurahan Kepatihan Wetan, Solo, Kamis (23/6).

Di Babak Semifinal ini, para peserta menyampaikan pidato dengan tema Peran Kepala Desa/Lurah dalam Implementasi Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarakat di Desa, tak disangka Sutrisno berhasil lolos dalam 10 besar.

“Saya bersyukur pas diumumkan 10 besar, saya nggak punya obsesi untuk menang tapi ternyata saya masuk dan berhak mengikuti final di hari terakhir, 18 Juni,” ucap Sutrisno.

Anwar Usman, Ketua MK juga ada dalam gelaran tersbut. Para peserta menampilkan materi yang berbeda yakni salah satu putusan MK yang diorasikan secara langsung di hadapan tamu undangan. Sutrisno yang mendapat undian ke-7 sempat berfikir untuk merasakan beratnya persaingan usai melihat orasi peserta yang telah tampil.

“Melihat penampilan rekan-rekan undian 1-6 kelihatannya berat, tapi sekali lagi saya nggak punya beban karena tidak ada obsesi untuk menang, mengalir saja. Melaksanakan tugas yang diemban Pemerintah Kota Solo, mudah-mudahan saya tetep bisa lolos,” terangnya.

Sutrisno yang mengambil materi Pancasila dasar negara yang tertuang dalam Keputusan Presiden No 24 Th 2016, penetapan 1 Juni 1945 menjadi Hari Lahir Pancasila sekaligus hari libur nasional. Melalui Kepres tersebut ia menghubungkan dengan Keputusan MK No 69/PUU-XVI/2018 tentang dasar negara Pancasila sila ke-3.

“Dari dua materi yang penting, saya tekankan penyampainnya ditujukkan untuk generasi muda. Nilai-nilai Pancasila yang masih kental mulai menipis tergerus kemajuan zaman IT. Harapannya generasi muda cerdas cekatan pengelolaan IT-nya baik tetap memiliki etika dan tetap melaksanakan Pancasila,” tuturnya.

Melalui pidato yang dibawakan selama 8 menit 5 detik di hadapan juri dan tamu, Sutrisno mendapat piala juara III dan piagam serta uang binaan sebesar Rp 20 juta.

“Saya bersyukur, apa yang saya lakukan tidak semata-mata untuk saya sendiri melainkan untuk Kota Solo. Meskipun ya saya mohon maaf belum bisa memboyong piala bergilirnya tapi paling tidak kita sudah semaksimal mungkin jadi hasilnya cukup menggembirakan,” terang Sutrisno.

Selain dirinya, Kelurahan Gandekan meraih juara harapan II, sedangkan untuk juara I diraih Kepala Desa Slogoretno, Wonogiri; Suparmanto dan juara II diraih Lurah Popongan, Karanganyar; Jalu Setio Bintoro. Sementara untuk 5 peserta yang lain mendapatkan uang binaan sebesar Rp 5 juta.

“Dari Solo ada 3 yang masuk 10 besar, Kecamatan Jebres ada dua yaitu Kelurahan Gandekan dan Kepatihan Wetan, dan satu lagi Kelurahan Laweyan di Kecamatan Laweyan,” ucapnya.

Sutrisno yang baru pertama kali mengikuti ajang ini sempat terfikirkan untuk pulang di perputaran final. Namun dengan membawa semangat untuk bisa berpartisipasi diantara 54 kelurahan di Solo, ia mantapkan hati dan pikirannya.

“Semangat saya waktu itu, saya merasakan seperti anak kecil. Jadi melihat peserta 1-6 maju di mimbar seakan mereka cerdas semua dengan uji materi pemohon, dalam mengelola materinya. Saat itu saya merasa apa yang disampaikan nggak ada nilai apa-apa. Saya kepikiran tak pulang saja, namun demikian saya merasakan kok sampai saya pulang nanti seperti apa penilaian orang-orang. Saya kan lurah dan begini saya pulang tanpa perang,” bebernya.

Sebelum dua peserta lainnya maju, Sutrisno melakukan persiapan belajar. Sempat belajar melalui buku saku materi keputusan MK, ia mulai merangkai dan menyusun kembali naskah pidatonya.

“Saya juga tidak menyangka materi yang sekejap itu, yang saya rangkai dengan persiapan semalam membuahkan hasil. Artinya saya memberi pesan kesan ke temen-temen buat jangan nyerah sebelum perang. Tetap konsen dan berusaha. Obsesi menang hilangkan yang penting usaha memberikan yang terbaik,” jelasnya.

Baginya dukungan keluarga dan rekan kerja lah yang membuatnya mampu di tahap ini. Sutrisno yang menyebut dirinya tipikal yang tak bisa santai mengaku pidatonya selalu terbawa ke pikiran.

“Saya memang agak klisikan, sulit tidur. Dalam mempersiapkan pidato itu nggak hanya saya tulis tapi saya rekam di HP. Dalam tidur saya pakai headset dan mendengarkan rekaman pidato, Alhamdulillah memorinya nyangkut dan terbawa di tidur saya. Itu unik bagi saya,” bebernya.

Sebagai rasa syukur dan penguatan hati, Sutrisno menyisihkan sebagian uang lomba untuk berbagi sembako ke masyarakat.