SOLO, MettaNEWS – Dalam rangka memperingati semangat emansipasi perempuan di bulan Kartini, The Sunan Hotel Solo kembali menggelar acara tahunan bertajuk Fashion & Luncheon, Rabu (15/4/2026).
Kegiatan ini memadukan peragaan busana dengan jamuan makan siang yang dikemas unik dan elegan.
General Manager The Sunan Hotel Solo, Retno Wulandari, menjelaskan bahwa acara ini merupakan turunan dari program yang telah rutin digelar sejak 2004.
Konsep utamanya adalah menghadirkan fashion show di siang hari dengan pendekatan berbeda, yakni model berjalan dari meja ke meja (table to table) agar tamu dapat menikmati karya secara lebih dekat.
“Yang unik, peragaan busana ini digelar di restoran dengan konsep interaktif. Tamu tidak hanya menonton, tapi juga bisa mengapresiasi langsung setiap detail busana,” ujarnya.
Pada edisi April ini, tema Kartini diangkat dengan menghadirkan kolaborasi bersama Lurik Prasojo, pelaku UMKM asal Pedan, Klaten.
Mereka mempersembahkan koleksi terbaru bertajuk “Pesona Lurik, Elegansi dalam Warisan dan Inspirasi”.
Selain fashion show, acara juga dilengkapi jamuan makan siang spesial dengan menu khas yang dirancang langsung oleh chef hotel. Menariknya, terdapat tiga menu “ramah perempuan” beserta dessert dan minuman khusus yang diluncurkan pada kesempatan tersebut.
Tak hanya itu, The Sunan Hotel Solo juga memberikan penghargaan kepada dua perempuan inspiratif. Maharani Setyawan dari Lurik Prasojo dinobatkan sebagai Kartini 2026 atas kontribusinya dalam mengembangkan UMKM berbasis budaya.
Sementara Widya Rosena diapresiasi sebagai penggerak ekonomi kreatif di Solo. Retno menegaskan pentingnya dukungan terhadap produk lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.
“Brand lokal bukan sekadar tren, tetapi bentuk keberpihakan, identitas, dan kebanggaan agar bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” katanya.
Sementara itu, Pengelola Lurik Prasojo, Maharani Setyawan mengungkapkan bahwa kolaborasi dengan The Sunan Hotel Solo menjadi momentum penting untuk memperkenalkan lurik kepada generasi muda.
Ia menghadirkan dua koleksi utama, masing-masing terdiri dari lima desain, yang menampilkan sisi elegan sekaligus kekinian dari kain lurik.
“Bangga saja tidak cukup, harus dipakai. Tantangan terbesar kami adalah bagaimana generasi muda mau menggunakan wastra lokal,” ujarnya.
Lurik Prasojo sendiri telah berdiri sejak 1950 dan kini memasuki generasi ketiga. Produk mereka bahkan telah menembus pasar internasional, termasuk tampil di Paris dan Milan Fashion Week melalui konsep tenun berbahan benang bersertifikat halal.
Ke depan, Maharani berharap adanya dukungan lebih luas, termasuk kebijakan penggunaan kain tenun secara rutin di instansi pemerintahan, guna mendorong pertumbuhan UMKM di seluruh Indonesia.
Melalui kegiatan ini, The Sunan Hotel Solo berharap dapat terus menjadi wadah kolaborasi antara industri perhotelan, pelaku UMKM, dan penggerak ekonomi kreatif untuk memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.








