Dari Pedan Klaten ke Milan Fashion Week, Strategi dan Inovasi Jadi Kunci Lurik Prasojo Bertahan 7 Dekade

oleh
Lurik Prasojo
Lurik Prasojo tampil dalam Fashion & Luncheon The Sunan Hotel Solo, Rabu (15/4/2026) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Industri wastra Indonesia kembali menunjukkan tajinya di kancah global. Salah satunya datang dari Lurik Prasojo, usaha tenun asal Kecamatan Pedan, Klaten, yang berhasil membawa kain tradisional naik kelas hingga tampil di ajang fashion internasional.

Dikelola oleh Maharani Setyawan, generasi ketiga penerus usaha keluarga, Lurik Prasojo terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Ia mengungkapkan bahwa perubahan terbesar terasa setelah pandemi, di mana tantangan industri fashion semakin kompleks.

“Sekarang eranya sudah berbeda, jauh lebih menantang. Bagaimana anak muda bisa bangga memakai wastra Indonesia, bukan hanya sekadar bangga tapi juga benar-benar memakainya,” ujarnya.

Dua Koleksi, Dua Segmen Pasar

Dalam setiap peluncuran, Lurik Prasojo menghadirkan dua jenis koleksi utama. Koleksi pertama difokuskan untuk menaikkan citra lurik menjadi lebih elegan dan menyasar pasar menengah ke atas. Sementara koleksi kedua dirancang khusus untuk generasi muda, dengan pendekatan desain yang lebih modern dan relevan.

“Setiap koleksi ada lima desain. Kami ingin lurik bisa dipakai di berbagai kalangan, termasuk anak muda yang menjadi kunci keberlanjutan industri ini,” jelasnya.

Berdiri Sejak 1950, Bertahan Tiga Generasi

Didirikan pada tahun 1950, Lurik Prasojo awalnya bergerak di bidang pertenunan dengan produk seperti selimut, serbet, dan kain lurik. Pada masa awal, permintaan lurik belum sebesar sekarang, sehingga produksi lebih banyak difokuskan pada kebutuhan rumah tangga.

Perubahan besar terjadi ketika Maharani mulai memegang kendali sekitar 17 tahun lalu. Ia membawa visi baru untuk memperluas pasar dan mengenalkan lurik sebagai bagian dari fashion modern.

“Saya ingin kain tenun bisa diterima di semua kalangan dan membawa budaya Jawa Tengah dikenal secara nasional,” katanya.

Tembus Paris dan Milan

Lurik Prasojo
Pengelola Lurik Prasojo, Maharani Setyawan menerima award Kartini 2026 di bidang usaha berbasis ekonomi sebagai perempuan penggerak Ekosistem kreatif dalam Fashion & Luncheon The Sunan Hotel Solo, Rabu (15/4/2026) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Langkah strategis lainnya adalah bergabung dengan organisasi desainer nasional pada 2019. Dari sana, jejaring bisnis semakin luas hingga membuka peluang ke pasar internasional.

Lurik Prasojo bahkan berhasil lolos kurasi untuk tampil di ajang fashion di Paris dan Milan melalui program Global Halal Fashion. Keunikan produk mereka terletak pada penggunaan benang bersertifikat halal dengan pewarna alami.

“Kami menenun lurik dengan benang khusus yang ramah lingkungan dan bersertifikasi halal. Itu menjadi nilai tambah hingga bisa tampil di Paris dan Milan Fashion Week,” ungkapnya.

Digitalisasi Jadi Kunci Bertahan

Pandemi menjadi titik balik penting bagi Lurik Prasojo. Saat banyak UMKM memangkas anggaran, mereka justru melakukan manuver dengan membangun tim kreatif digital.

Strategi ini membuahkan hasil. Penjualan tidak hanya bergantung pada toko offline, tetapi juga dari platform digital dan live shopping.

“Sekarang pendapatan datang dari berbagai kanal. Offline sudah kembali ramai, tapi digital tetap berjalan dan sangat membantu,” jelasnya.

Strategi Hadapi Lesunya Ekonomi

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, Lurik Prasojo mengalihkan fokus ke pasar seragam yang dinilai lebih stabil karena memiliki anggaran tetap.

Selain itu, mereka juga menghadirkan produk dengan harga lebih terjangkau untuk menjangkau pasar menengah ke bawah tanpa merusak citra produk premium.

Harga kain lurik sendiri sangat bervariasi, mulai dari Rp40 ribu per meter hingga Rp2,5 juta per meter. Untuk produk fashion, harga bisa mencapai Rp7,5 juta.

Harapan untuk Industri Tenun Nasional

Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan regenerasi konsumen, terutama dari kalangan muda. Maharani berharap ada dukungan kebijakan dari pemerintah untuk mendorong penggunaan tenun secara luas.

“Harapannya ada himbauan penggunaan tenun nasional, misalnya satu hari dalam seminggu. Itu akan sangat membantu pertumbuhan UMKM di seluruh Indonesia,” katanya.

Dengan inovasi, strategi pasar yang adaptif, dan semangat pelestarian budaya, Lurik Prasojo membuktikan bahwa kain tradisional Indonesia mampu bersaing di panggung dunia tanpa kehilangan identitasnya.