WARUNG ini agak tidak masuk akal, sangat antimainstream. Untuk mencapainya harus menempuh jalan pedesaan yang gelap dan berliku. Fasilitas tempat dan menu serba bersahaja. Namun, warung nasi goreng Pak Basiyo di Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, sudah eksis lebih dari dua dekade dan selalu ramai dikunjungi tamu dari jauh.
“Saya berjualan mulai tahun 1984. Tadinya pakai gerobak, berkeliling sampai ke Pasar Nguter. Tapi selalu habis sebelum separuh rute, jadi banyak yang kecewa. Akhirnya pelanggan minta saya jualan di rumah saja, biar mereka yang datang. Jadi saya keliling pakai gerobak kira-kira 3-4 tahun saja, selebihnya di sini,” tutur Pak Basiyo yang bernama asli Sukiyo (68), Rabu (2/2/2020) malam.
Baca Juga: Garang Asem Mbok Tarmo Wonogiri, Warung Melegenda di Batas Kota Sejak 1950
Untuk bisa mencapai warung Pak Basiyo, dari Solo bisa dimulai dari jalan raya Solo-Wonogiri. Sampai di Desa Gupit, ada jalan ke kiri ke arah Bendung Colo. Sedikit sebelum mencapai Colo, ada pertigaan dengan tugu putih di sisi kiri, langsung belok menyusuri jalan dusun yang sempit dan gelap (sudah pasti gelap, karena warung Pak Basiyo buka sekitar jam 19) tanpa penerangan yang memadai
Jika takut kesasar, menggunakan aplikasi Google Maps akan sangat membantu. Namun, petunjuk dari Google akan berhenti di sebuah rumah warga. Warungnya tidak terlihat.
Warung nasi Goreng Pak Basiyo Tak Terlihat dari Tempat Parkir
“Sudah parkir di sini saja, itu warungnya di ujung sana,” tutur pria pemilik rumah dengan ramah. Dia bahkan menolak sekadar uang parkir. Tangannya menunjuk jalan menurun sepanjang kira-kira 50 meter, yang berakhir di sebuah pelataran rumah kampung sederhana.
Di sanalah Sukiyo membuka warung. Hanya ada satu meja makan di emper rumah, selebihnya tamu yang berdatangan dengan mobil dan motor, boleh menggelar sendiri tikar yang menumpuk di teras.
Menu yang tersedia di warung Pak Basiyo terbilang standar sebetulnya. Ada bakmi/bihun goreng dan rebus, nasi goreng, cap cay. Rasanya enak, meski untuk isi hanya mengandalkan sayuran, telur dan daging ayam.
Baca juga: Ceplok Telor, Ada di Gang Tersembunyi tapi Lezat Penuh Energi
Ada menu spesial yang disebut oblok-oblok. Ini tidak sama dengan sayur oblok-oblok versi Wong Solo. Tapi daging dan tulang ayam yang pedas mirip rica, dengan tambahan potongan sayur dan bakwan.
Tertarik mencoba? Sukiyo menuturkan, warungnya buka setiap hari tanpa libur, tutupnya pun bisa sampai lewat tengah malam. “Sampai habis, baru tutup. Saya liburnya kalau nengok cucu, itu bisa sampai dua minggu nggak jualan,” tutur kakek dari 15 cucu itu.








