WONOGIRI, MettaNEWS – Tak jauh dari jembatan Nambangan Wonogiri, warung Garang Asem Mbok Tarmo yang melegenda berada. Berdiri sejak 1950 warung ini terletak di sebrang jalan yang dulunya merupakan jalan utama masyarakat Wonogiri untuk pergi ke Sukoharjo maupun Solo.
Selama 73 tahun, warung tembok dengan gebyok biru putihnya itu masih menjajakan hidangan khasnya, Garang Asem. Diteruskan generasi ketiga, saat ini warung Garang Asem Mbok Tarmo dikelola Suwarningsih (57). Setiap harinya warung ini buka dari jam 07.00 hingga 17.00 WIB.

“Dari dulu tempatnya ya seperti ini tapi tutupnya sampai malam, sekarang sudah sepi kalau maghrib. Kalau dulu kan sini tu jalan utama Wonogiri ke Solo. Jadi masih banyak orang-orang yang lewat, sekarang lalu lintasnya nggak begitu ramai,” kata Suwarningsih kepada MettaNEWS, Selasa (30/8/2022).

Seporsi Garang Asem berisi daging ayam, kuah, cabai, Suwarningsih menjualnya seharga Rp 17.000. Tetap mempertahankan resep asli dari sang nenek, Garang Asem yang dibuatnya memiliki ciri khas pada kuah. Kuah Garang Asem Mbok Tarmo cenderung bening meski menggunakan santan. Rasa yang tak berubah dari waktu ke waktu mampu ia pertahankan hingga kini.
“Masaknya pakai kompor sama pawon kayu bakar, satu ayam jadi 10 bungkus masaknya pakai daun asam selama 2 jam bungkusnya pakai daun pisang,” tambahnya.

Keberadaan jembatan Nambangan ternyata begitu berpengaruh terhadap penjualannya. Dahulunya jembatan Nambangan merupakan jalur yang kerap digunakan kebanyakan orang untuk pergi ke Sukoharjo Solo. Kini setelah jembatan tersebut selesai dibangun ulang, justru membuat warungnya sepi.
“Dodole malah penak rien (jualannya enak dulu) di sini kan jalan sidatan malah sak eco pas jembatannya sempit karena kan di sini jadi jalur cepat mboten kathah yang pinarak (nggak banyak yang mampir). Ini sudah ketiga kalinya jembatan diubah,” terangnya.
Menurutnya ketiga kalinya jembatan itu dibangun membuat pembeli warungnya makin menurun. Jika dahulunya ia mampu mengolah 20 kilogram daging ayam kampung, kini ia hanya mengolah 8 kilogram saja setiap harinya.
“Belum sampai matang ibaratnya sudah habis sekarang cuma 8 kilogram bedanya dulu ayam kampung sekarang ayam potong. Pembelinya dari luar Wonogiri sekarang ya masih tapi sudah jarang, sekarang juga banyak jajanan beragam jadi di sini sudah nggak ramai,” katanya.
Meski kian banyak makanan yang dijajakan di sekitarnya, ia tetap mempertahankan menu Garang Asem sebagai andalan. Lantaran sudah puluhan tahun, Suwarningsih mantap masih akan melanjutkan warung peninggalan neneknya itu.











