Unek-unek Pedagang Pasar Jongke Menyoal Pasar Darurat: Saya Pusing Mau Nangis

oleh
Lapangan Jegon
Pedagagang Pasar Jongke cek pasar darurat Lapangan Jegon, Pajang, Laweyan, Solo, Kamis (30/3/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Puluhan pedagang Pasar Jongke mendatangi pasar sementara di Lapangan Jegon Jalan Parangkusumo Gentan Baki, Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo, Kamis (30/3/2023).

Mereka adalah pedagang kios dan los yang ingin melihat kondisi tempat berjualan yang baru. Para pedagang ini nampak melihat-lihat bagian yang mereka dapat sesuai penomoran Dinas Perdagangan.

Di antara pedagang yang datang, Trini Siswanti (50) pedagang makanan ringan duduk termenung memandang los di depannya dengan hati gusar. Kepada MettaNEWS, Trini mengaku tidak mendapat pembagian los yang sesuai.

Trini mengaku miliki 3 los di Pasar Jongke. Namun ketika tiba saatnya pembagian nomor dia hanya mendapat satu los. Merasa jengkel ia mengadu ke lurah pasar dan Dinas Perdagangan namun belum menemui solusi.

“Saya ayem (tentram-red) dapat data kemarin waktu mau pengambilan nomor dari sana bilangnya ada tiga. Tapi ternyata satu nama dapatnya satu. Saya nggak dapat tiga, saya pusing,” ujar Trini.

Trini meminta ada solusi terbaik yang ia dapat sebelum pindah ke pasar darurat pada 2-10 April mendatang.

“Terus solusinya apa pihak pasar nggak tahu pokoknya tiga nama dapat satu nggak ada solusi sama sekali. Nanti kalau kenyataannya nggak dapat nangis saya. Saya nggak punya los yang lain,” kata Trini sambil menahan tangis.

Ukuran Los dan Kios Pasar Darurat Kecil

Lapangan Jegon
Kios pasar darurat Lapangan Jegon, Pajang, Laweyan, Solo, Kamis (30/3/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Selain permasalahan tidak mendapatkan jumlah los yang sesuai kepemilikian. Trini juga mengeluhkan perihal ukuran los 1,5 x 2 meter. Menurutnya los tersebut terlampau kecil jika ia bandingkan dengan los Pasar Jongke.

“Posisi kayak gini kecil banget kan nggak bisa nggak ada solusi sama sekali pihak pasarnya. Ukuran losnya itu 4 meter yang Pasar Jongke kalau sini segini ya ngeluh. Sebetulnya kurang ya kesempitan banget,” terangnya.

Meski menurutnya kurang strategis lantaran jauh dari jalan raya. Trisni berharap bisa mendapat rezeki dari berjualan di pasar darurat Lapangan Olahraga Jegon.

“Kalau yang namanya darurat nggak strategis. Tapi ya masalahnya gimana kita harus kemana dulu. Adanya kayak gini ya kita jalani dulu solusinya ya kayak gini gimana lagi,” tukasnya.

Keluhan serupa juga muncul dari Sunarni (41) pedagang ayam yang mendapati los dengan ukuran lebih kecil.

“Kalau saya menempati los ya kalau ukurannya kurang cukup luas. Tapi gimana lagi ini kan supaya cukup bisa untuk jualan makanya dikurangi ukurannya. Kalau dulu kan 4 meter kali 2,5 meter,” ujar Sunarni.

Kendati demikian ia cukup memaklumi kondisi sebuah pasar sementara yang memang dibuat sedimikian rupa.

“Tapi kalau sekarang ya pasti dikurangi karena ini kan cuman lapangan sementara. Kalau besok sudah pindah ke yang baru nggak tahu berapa pasnya,” ujarnya.

Sunarni hanya ingin Dinas Perdagangan mendapat izin untuk pindah ke pasar darurat setelah Lebaran. Sebab di masa ini menurut para pedagang merupakan waktu yang lebih menguntungkan untuk berjualan.

“Banyak pedagang yang pengin jualan setelah habis lebaran. Tapi gimana lagi sudah dari Pak Gibran gitu. Jadi kita harus manut kalau nggak manut ya gimana lagi. Pokoknya kompak tanggal 2 sampai 10 April itu sudah pindah ke sini,” pungkasnya.

Fasilitas Pasar Darurat Lapangan Jegon Kurang Memadai

Terpisah, salah seorang pedagang pakaian Ruli Kusnandari (53) menilai fasilitas pasar sementara jauh berbeda dengan Pasar Jongke.

“Kesannya itu kalau dibandingkan dengan yang di sana jauh berbeda. Cuman ya disyukuri saja masih bisa kerja. Nanti waktu berikutnya dapat yang lebih baik lagi kalau dibandingkan dengan yang lama,” ucap Ruli.

“Tetap saja sangat jauh berbeda dari ukuran dari bahan-bahannya berbeda. Kalau fasilitasnya ya kios plong tapi ya disyukuri saja yang penting bisa untuk bekerja kembali,” imbuhnya.

Ruli mengaku tidak ada iuran atau retribusi yng harus ia bayar selama menempati pasar sementara. Dengan begitu ia tetap bersyukur bisa kembali menjajakan pakaian.

“Lokasi pasarnya kan ini di tengah-tengah kalau sana pinggir jalan. Ya mudah-mudahan dengan di tengah kampung bisa menjadi berkah. Kurang lebih pindah di sini satu tahun tapi mungkin juga bisa kurang,” tukasnya.