SOLO, Metta NEWS – Kasus stunting atau gizi buruk di Solo seperti fenomena gunung es. Tidak main-main angka stunting di Kota Solo menempati urutan tertinggi ke 2 setelah Kota Tegal. Data ini disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Solo Selvi Ananda usai penyerahan multivitamin kepada ibu hamil dan juga ibu menyusui di gedung Dinas Kesehatan Kota Solo, Senin (4/4/2022).
“Solo nomor 2 se Jawa tengah, setelah Tegal, nomor dua dari atas. Angka stunting di Solo masih sekitar 800 an. Makanya kita targetkan setiap tahun harus turun 3%,” ungkap Selvi.
Tingginya angka stunting di Solo ini menurut Selvi dipengaruhi banyak faktor tidak hanya dari segi asupan makanan saja.
“Tidak bisa dipungkiri stunting ini dipengaruhi banyak fakta sih ya. Seperti cakupan gizi, faktor ekonomi, sanitasi, drainase kebersihan, lingkungan yang higienis dan kesehatan di keluarga itu juga mempengaruhi. Cuma memang pengaruh paling banyak di cakupan gizi,” papar Selvi.
Istri orang nomor satu di Solo ini mengatakan untuk mengatasi stunting harus menggandeng beberapa pihak khususnya dalam hal memberikan bantuan-bantuan gizi bagi balita, ibu hamil dan ibu menyusui.
“Ini tidak bisa hanya dengan edukasi, sosialisasi tapi harus tepat sasaran dengan pemberian bantuan secara langsung. Seperti kegiatan ini ibu hamil dan ibu menyusui dapat multivitamin,” tandasnya.
Untuk menjangkau sasaran lebih banyak, program tim penggerak PKK kedepan akan bekerja sama dengan berbagai pihak.
“Kita akan galang CSR untuk memberikan bantuan lagi ke anak-anak dan balita stunting serta para ibunya dengan tujuan untuk meningkatkan gizi,” jelas Selvi.
Sementara itu ditambahkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo, Siti Wahyuningsih data angka stunting di Solo yang menyebutkan Solo kedua tertinggi berdasarkan data dari survei SSGI atau Studi Status Gizi Indonesia.
“Data survei status gizi indonesia (SSGI) itu dasarnya dari blok sensus. Blok sensus itu Solo mendapat 10 blok sensus angka nasional yang dipakai itu. Blok sensus itukan cuma menggambarkan berapa populasi,” jelas Siti Wahyuningsih.
Senada dengan Selvi, Siti menegaskan permasalahan stunting melibatkan banyak dinas untuk penanganannya.
Siti menyebut stunting harus ditangani secara komprehensif dan berkelanjutan, tidak bisa hanya bantuan yang sifatnya sementara.
“Melibatkan banyak dinas. Diantaranya dinas perumahan dan permukiman, KB, Pertanian. Contohnya gini, Dinas Permukiman peranannya sangat besar seperti intervensi fisik jambannya gimana, lantai rumahnya gimana, ventilasi rumah, Ipal nya. Terus dari dinas pertanian mengambil peran bagaimana pemberdayaan lahan sempit di rumah agar bisa ditanami sayuran. Karena stunting ini tidak hanya masalah kesehatan dari asupan makanan saja,” tegas Siti.







