Baru Hari Kedua Ramadan, Harga Kurma Naik Seiring Banyaknya Permintaan

oleh
Kurma
Pembeli buah kurma penuhi Toko Grosis dan Oleh-oleh Abbiyyu di Pasar Kliwon, Senin (4/4/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Memasuki hari kedua bulan Ramadan 1443 H, salah satu makanan manis khas Ramadan yakni kurma alami kenaikan harga seiring naiknya permintaan. Kenaikan harga kurma saat bulan Ramadan terjadi karena banyaknya permintaan yang cukup signifikan untuk oleh-oleh Umroh sejak Januari lalu. Selain itu, isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diyakini juga mempengaruhi harga kurma .

Salah satu toko grosir oleh-oleh haji dan umroh Abbiyyu, Diah menyebut kenaikan harga kurma paling tinggi sejak memasuki bulan puasa Ramadan, yakni Minggu (3/4) lalu.

“Sebelum Januari masih pandemi jadi belum ada yang berangkat umroh. Dampaknya ke penjualan oleh-oleh juag berkurang. Kalau sekarang kan sudah boleh umrohterus naiknya itu pas harga Pertamax naik juga. Tapi kenaikan harga kurmanya nggak tinggi banget. Sekitar Rp 5 ribu minimal kenaikannya,” ungkap  di Toko Grosir Oleh-oleh Haji dan Umroh Abbiyyu, Pasar Kliowon, Senin (4/4/2022).

Diah mengungkapkan permintaan kurma mulai banyak sejak Ramadan. Berbeda dengan Ramadan dua tahun yang lalu saat kasus pandemi masih tinggi, Diah menyebut dengan adanya hal tersebut menyebabkan umroh di Indonesia juga ditiadakan. Sehingga hal ini berdampak ke harga kurma muah karena sepi peminat.

Kenaikan harga pada kurma tersebut diungkapkan Diah tidak mempengaruhi permintaan pelanggan. Hal ini karena banyak masjid yang menggelar acara Ramadan seperti bagi-bagi takjil di pinggir jalan maupun berbuka puasa bersama. Selain itu, pondok pesantren di berbagai wilayah di Solo juga sudah mulai menggelar buka bersama sehingga permintaan kurma di tokonya alami kenaikan.

“Mulai Ramadan ini semua jenis kurma naik. Mulai dari kurma Mesir Rp 35.000/kg sebelumnya Rp 30.000/kg, kurma Madinah sebelumnya Rp 45.000/kg sekarang Rp 50.000/kg, kurma Sayer sebelumnya Rp 25.000/kg sekarang Rp 30.000/kg, kurma Tunis Madu yang naiknya paling banyak, sebelumnya Rp 80.000/kg sekarang Rp90.000/kg. Kalau Tunisia masih stabil belum naik, sekarang harganya masih Rp 60.000/kg,” ungkap Diah.

Alami kenaikan permintaan dari biasanya, Diah menyebut stok ketersediaan kurma di tokonya aman hingga lebaran mendatang. Buah kurma yang didatangkan dari distributor di Jakarta dan Surabaya ini disebutkan Diah biasanya ia mengambil persedian sebanyak 200 kardus.

“Permintaan kurma paling banyak sekala besar biasanya orang kalau beli sebanyak 50 dus sampai 100 dus. Kalau yang eceran itu 3 kilogram sampai 5 kilogram buat konsumsi sendiri,” tuturnya.

Kurma yang paling banyak dicari pembeli adalah kurma Mesir, kurma ini mempunyai ukuran besar dengan rasa yang manis dengan tekstur yang sedikit keras keriput. Selain itu kurma Kholas juga alami kenaikan permintaan karena memiliki tekstur yang tebal dan lembut. Meskipun tidak terlalu manis namun kurma jenis ini sangatlah empuk dengan cita rasa karamel ketika sudah sangat masak.

“Ukuran kurma sangat berpengaruh bagi pembeli. Jadi kalau buat takjil itu harus 3 biji untuk kurma ukuran besar. Kalau yang kecil harus 5, harus ganjil. Tapi biasanya yang dicari itu yang besar. Kalau harga variatif, untuk kalangan tertentu beli yang berkualitas. Buat yang dibagi-bagi itu ada yang nyari kurma harga standar,” tambahnya.

Diah menyebut saat mudik lebaran permintaan kurma di tokonya kembali alami kenaikan. Banyaknya pemudik yang membeli kurma sebagai oleh-oleh khas Ramadan membuatnya akan menambah jumlah stok kurma. Namun hal ini disesuaikan dengan jumlah stok yang ada di distributor.

Menurut Diah, kenaikan harga kurma juga disesuaikan dengan banyaknya permintaan. Hal ini karena sebelumnya di tahun 2018 lalu permintaan kurma sangatlah banyak hingga sebabkan jumlah yang ada di distributor kekurangan untuk disuplay.

Dengan dilonggarkannya pelaksanaan Ramadan ditahun ini, Diah berharap akan berdampak baik ke penjualannya.

“Sangat menyambut baik dengan dilonggarkannya Ramadan tahun ini, karena kan dua tahun sebelumnya sudah prihatin nggak ada pembeli. Kurma ini kan bukan kebutuhan pokok, hanya makanan yang dicari di momen tertentu saja. Jadi bagi kami para pedagang sangat bersyukur mulai pulih, semoga seterusnya seperti ini,” tukasnya.