SOLO, MettaNEWS – SMP Kasatriyan 1 Solo memiliki jejak panjang sebagai institusi pendidikan yang mungkin termasuk salah satu yang paling tua di Indonesia. Namun, kini sekolah yang berlokasi di kompleks Baluwarti Keraton Surakarta itu dalam kondisi kolaps, dan sangat membutuhkan uluran tangan.
“Kondisi kami ya begini, jumlah peserta didik hanya 57 anak, guru dan karyawan total 13 orang. Gedung dan fasilitas lainnya sudah rusak semua, lebih dari parah,” tutur Kepala SMP Kasatriyan 1, Farida Kurniyati di sela-sela perayaan ulang tahun ke-74 sekolah tersebut, Minggu (13/11/2020).
Farida memaparkan, usia 74 tahun dihitung sejak Yayasan Kasatriyan berdiri pada tahun 1948. Namun jauh sebelum itu, ada dokumen yang menyebutkan di tempat yang sama berdiri HIS Kasatriyan. HIS atau Hollandsch Inlandsch School atau sekolah dasar untuk pribumi di zaman penjajahan Belanda.
“Jadi sekitar tahun 1910, tempat ini sekolah untuk bangsawan kerabat Keraton, kemudian di malam hari juga ada kursus-kursus untuk abdi dalem. Dari HIS lalu berubah jadi Sekolah Rakyat. Tahun 1965, tukar lokasi dengan SMP Kasatriyan yang semula di Balai Magangan di selatan Keraton,” paparnya.
Sebagai sekolah yang berada di bawah yayasan milik Keraton, SMP Kasatriyan memiliki beberapa ciri khas. Di antaranya pelajaran dan ekstrakurikuler tentang budaya, misalnya tari dan karawitan. Meski hanya bermodal gamelan besi, itu pun berlaras tunggal hanya Pelog, namun karena semangat dan adanya guru berlatar belakang seni, muncul berbagai karya yang bisa dibanggakan.
“Kondisi sekolah ini masih baik sampai pada tahun 2009 misalnya, peserta didik masih 700 anak. Lalu makin menyusut karena adanya peraturan zonasi, juga efek sekolah negeri beramai-ramai memperbesar daya tampung untuk menambah jam mengajar yang menjadi syarat sertifikasi guru. Maka, semua peserta didik terserap di sekolah negeri, swasta seperti kami kalah bersaing,” imbuh Farida.
Berikan harapan
Saat perayaan ulang tahun, hadir sejumlah alumni yang memang sengaja diundang untuk memberikan saran solusi. Di antara yang hadir Dr KPH Suryo Atmanto, Ketua Umum Sinergi Nawacita Indonesia, dan masih ada yang lain. Seperti kelompok alumni tahun 1989, hadir membawa oleh-oleh seperangkat komputer berikut printer.
Suryo Atmanto di panggung perayaan minta para guru dan alumni tidak minder dengan kondisi SMP Kasatriyan saat ini. Cucu raja Surakarta Paku Buwono X ini menyebut, ada modal besar dan sejumlah kelebihan yang jika diasah akan menjadi potensi sekolah dan mampu menaikkan daya saing sekolah.
“Ini di belakang saya hadir beberapa tokoh, saya ajak. Nanti kita bantu benahi semuanya. Lalu kita petakan kebutuhan, ada sejumlah pihak di dalam dan di luar negeri yang bisa kita kontak untuk membantu dan bersinergi, “ jelasnya.








