SOLO, MettaNEWS – Sebagai wujud penghormatan pada leluhur yang telah mendahului kita, umat Khonghucu di Surakarta dan sekitarnya mengadakan sembahyang Ching Bing, Minggu (16/4/2023).
Sama seperti sebelumnya, MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) Surakarta dengan fasilitas dari PMS (Perkumpulan Masyarakat Surakarta) sejak puluhan tahun yang lalu melaksanakannya di pelataran Rumah Duka Thiong Ting Jebres.
Pemimpin upacara sembahyang, rohaniwan MAKIN Surakarta WS. Adjie Candra menjelaskan, hari raya Ching Bing memakai perhitungan tahun Masehi juga saat sembahyang Tang Cik (setiap 22 Desember).
“Ching Bing adalah saat untuk kita bersembahyang dan menengok makam leluhur kita. Maka disebut juga sebagai han Sadranan/hari tilik kubur yang di China saat ini masih menjadi hari libur. Khususnya untuk masyarakat yang bekerja di luar kota atau luar negeri agar bisa pulang, berkumpul sambil bersembahyang di makam leluhurnya,” jelas Adjie.
Adjie menjabarkan makna dari tradisi Ching Bing. Ching Bing artinya cerah dan terang, yang biasanya jatuh pada tanggal 5 April.
“Penghitungannya adalah 104 hari setelah Tang Cik (22 Desember, yaitu saat letak Matahari berada di 23% derajat Lintang selatan). Pelaksanaan Ching Bing di Thiong Ting, karena zaman dahulu banyak kaum Tionghoa yang memakamkan para leluhurnya di luar atau pinggiran kota. Maka Ching Bing yang identik dengan musim yang cerah dianggap sebagai saat yang tepat melakukan ziarah sambil seolah mengadakan reuni bersama keluarga dari luar kota ke pemakaman,” paparnya.
Adjie menyebut, kewajiban berziarah dan sembahyang saat Ching Bing sudah ada jauh sebelum kelahiran Nabi Khongcu. Ching Bing juga disebut sebagai hari raya Makan dingin/Han Siet Ciat yang masih dilaksanakan di negara China.
Pada upacara Ching Bing, disiapkan dua altar persembahan. Yakni altar Thian (Tuhan YME) di depan Klenteng Dewa Bumi/Hok Tek Tjing Sien, juga ada 2 (dua) altar sembahyang lainnya yaitu altar vegetarian dan altar umum.
“Sembahyang dilakukan di depan altar Tuhan, lalu ke altar Dewa Bumi dan terakhir ke altar sembahyang Ching Bing, dipimpin oleh rohaniwan MAKIN Surakarta, setelah selesai sembahyang dilakukan penyempurnaan dengan pembakaran nama para leluhur yang ikut di doakan, Gin Coa (simbolis uang perak) dan tabur bunga dimakam Kapiten Liem Djie Boo & Istri (pemilik / pendiri Thiang Ting) yang ada diruang belakang Thiong Ting,” pungkas Adjie.







