Majelis Agama Khonghucu Indonesia Gelar Sembahyang Ching Bing, Kirim Doa untuk Arwah Leluhur

oleh
oleh
Sembahyang Ching Bing mengirim doa untuk para leluhur berlangsung di halaman Thiong Ting Solo, Minggu (7/4/2024) | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) Surakarta kembali mengadakan sembahyang Ching Bing atau doa pada arwah leluhur yang sudah mendahului kita.

Untuk sembahyang Ching Bing, Minggu (7/4/2024) siang, dengan fasilitas dari PMS, sejak puluhan tahun yang lalu melaksanakannya di Thiong Ting Jebres Surakarta.

Ketua sembahyang Ching Bing, Novita Luisiana Dewi menuturkan Ching Bing biasanya bertepatan dengan tanggal 5 April (kecuali tahun ini karena kabisat) Ching Bing menjadi tanggal 4 April.

“Kita hitung 104 hari setelah Tangcik tanggal 22 Desember atau saat sembahyang musim dingin. Namun untuk pelaksanaannya bisa setengah bulan sebelum sampai sesudah tanggal 5 April, karena itulah juga sering disebut masa atau bulan Ching Bing,” jelas Novita.

PMS memfasilitasi lewat rumah duka Thiong Ting sebagai tempat pelaksanaan sembahyang Ching Bing. Novita menyebut bagaimana sejarah lokasi Ching Bing ini.

“Karena dahulu di Thiong Ting banyak pemakaman tak terurus dan tempat penitipan abu jenazah. Namun Thiong Ting dibangun, makam yang ada dibongkar dan abu dipindahkan ke Delingan. Upacara Ching Bing tetap dilaksanakan disitu. Juga karena dibelakang Thiong Ting masih ada makam Tn / Ny Liem Djie Boo selaku pendiri dan pemilik Thiong Ting,” ungkapnya.

Novita menyebut lahan pemakaman jaman dahulu masih luas. Sehingga hampir semua orang Tionghoa selalu memakamkan leluhurnya yang meninggal maka Sembahyang Ching Bing selalu dilaksanakan di pemakaman. Ching Bing waktu untuk berziarah ke makam sehingga juga menjadi ajang reuni karena ahli waris almarhum karena mungkin ada yang tinggal diluar kota.

“Nabi Khongcu mengajarkan umatnya untuk selalu menghormati dan bersembahyang kepada leluhurnya. Kenapa demikian, karena keberadaan kita di dunia tidak lepas dari peran orang tua & leluhur kita. Yang mendidik dan membesarkan, yang memberikan segalanya untuk kita adalah orang tua. Maka kewajiban utama seorang anak adalah berbakti dan membahagiakan orang tua,” tegasnya.

Upacara Ching Bing di Thiong Ting dimulai dengan bersembahyang ke altar Tian, Tuhan YME. Dilanjutkan ke Kelenteng yaitu altar Dewa Bumi (Hok Tek Cheng Sien), lalu ke altar sembahyang umum yang diatasnya tersaji banyak masakan, buah, kue, minuman dan lainnya. Pada belakang altar terpasang nama para leluhur yang didoakan. Selesai upacara kertas berisi nama tersebut akan dibakar / disempurnakan berbarengan dengan Gin Coa (uangan perak). Acara diakhiri dengan membakar uang kertas / Gin Coa, bendera yang bertuliskan marga Tionghoa dan nama para leluhur yang diikutkan dalam sembahyang.

“Untuk Ching Bing yang dilaksanakan MAKIN Surakarta ada 2 (dua) altar yaitu altar umum dan altar Vegetarian. Karena sebagian leluhur masyarakat Tionghoa semasa hidupnya banyak yang berpantang makan daging,” jelasnya lagi.

Umat Khonghucu Surakarta mengikuti jalannya upacara yang dipimpin oleh rohaniwan Khonghucu yang mengenakan jubah panjang biru tua. Sementara kedua pendampingnya memakai warna biru muda, dihadiri juga para rohaniwan, pengurus serta umat, Ketua MAKIN Surakarta, Henry Susanto

Novita menambahkan sembahyang Ching Bing adalah salah satu dari 14 (empat belas) hari raya keagamaan Khonghucu yang diakui Pemerintah. Walaupun belum dijadikan hari libur nasional kecuali Tahun baru Imlek yang kini juga dirayakan oleh umat beragama lain.

“Maka Ching Bing membuktikan kepada kita betapa bakti kepada orang tua. Penting dan wajib untuk tetap dijalankan oleh semua siapapun yang merasa pernah dilahirkan, dibesarkan, dirawat, dididik dan diberi berbagai fasilitas oleh kedua orang tuanya,” tegas Novita.