SOLO, MettaNEWS — Suasana refleksi Jumat Agung di GKJ Danukusuman berlangsung penuh makna dan berbeda dari biasanya. Jemaat menghadirkan simbol unik berupa salib yang dibuat dari barang-barang bekas—sebuah pesan kuat tentang kerapuhan manusia di hadapan Tuhan.
Pendeta GKJ Danukusuman Pdt. Dr. Uri Christian Sakti Labeti, S.Si., M.Sn menjelaskan, peristiwa penyaliban Yesus Kristus bukan sekadar kisah penderitaan, melainkan wujud cinta kasih Tuhan yang sempurna bagi seluruh ciptaan, termasuk manusia dan alam semesta.
“Ketika Yesus berkata ‘sudah selesai’, itu bukan berarti berakhir. Justru itu adalah tanda bahwa karya keselamatan Tuhan sudah sempurna, utuh, dan saling terhubung,” ungkapnya.
Ia menekankan, melalui peristiwa di Golgota, relasi antara Tuhan, manusia, dan alam yang rusak akibat dosa telah dipulihkan. Tidak ada lagi sekat—bahkan digambarkan dengan terbelahnya tabir bait Allah—yang memungkinkan manusia kembali berhubungan langsung dengan Tuhan.
Lebih jauh, Pdt Uri juga mengangkat makna penyucian melalui darah dan air yang keluar dari lambung Yesus saat disalib. Darah melambangkan penebusan dosa, sementara air menjadi simbol pembersihan kehidupan manusia dari segala kerapuhan.
Dalam refleksi tersebut, kisah seorang prajurit Romawi bernama Longinus turut disinggung. Ia dipercaya mengalami mukjizat kesembuhan setelah terkena percikan darah Yesus, hingga akhirnya menjadi saksi iman meski harus menghadapi kematian.
Simbol salib dari barang bekas yang dikumpulkan jemaat pun menjadi representasi nyata pesan tersebut. Barang yang dianggap tak berharga diolah menjadi karya seni penuh makna—melambangkan kehidupan manusia yang rapuh, namun tetap direngkuh dan disucikan oleh kasih Tuhan.
“Salib dari barang bekas ini adalah simbol kerapuhan kita. Meski tampak tak berharga, Tuhan tidak membuang kita, justru merengkuh dan menyucikan kita,” jelas Pdt Uri.
Refleksi ini sekaligus menjadi pengingat bagi jemaat untuk menjaga harmoni, tidak hanya dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga dengan alam semesta sebagai ciptaan. Melalui kasih yang telah dinyatakan, umat diajak untuk hidup dalam damai dan menjaga keberlangsungan bumi sebagai rumah bersama.
Perayaan Jumat Agung di GKJ Danukusuman pun menjadi momen spiritual yang tidak hanya menyentuh sisi iman, tetapi juga kesadaran akan pentingnya merawat kehidupan secara utuh—dari diri sendiri hingga lingkungan sekitar.







