SOLO, MettaNEWS – Langit mendung sejak pagi, tepat pada hari di mana ratusan umat Katolik berkumpul di sebuah Gereja Katolik Santo Aloysius Mojosongo Solo untuk memperingati Jumat Agung.
Para umat itu hadir untuk menyaksikan visualisasi kisah sengsara Yesus Kristus “Mati Demi Aku”. Kesedihan menyelimuti hati dan wajah mereka. Suara tangisan umat pun ikut mengiringi jalannya visualisasi.
Para muda mudi yang tergabung dalam Orang Muda Katolik (OMK) mulai memvisualisasikan cerita jalan salib dengan perannya masing-masing.
Kisah penyalibannya terjadi setelah Yesus berdoa di Taman Getsemani sebuah taman di Bukit Zaitun, Yerusalem. Usai berdoa, Yesus ditangkap oleh prajurit dan penjaga suruhan orang Yahudi.

Yesus, yang dituduh sebagai Raja orang Yahudi kemudian diserahkan ke seorang gubernur Kerajaan Romawi, Pontius Pilatus untuk dijatuhi hukuman mati dengan cara disalib.
Yesus juga dicambuk oleh dua algojo di kanan dan kiri secara bergantian. Cambuk tersebut terbuat dari potongan tulang dan besi, sehingga tubuh Yesus pun bercucuran darah.

Tak hanya dicambuk, Yesus juga diberikan mahkota duri hingga darah juga bercucuran dari kepala-Nya.
Setelah diberikan mahkota duri, Yesus kemudian diarak memanggul salib menuju Golgota, tempat di mana Yesus disalibkan. Sepanjang perjalanan, Yesus tak henti-hentinya dicemooh. Dalam visualisasi itu, Yesus dibantu oleh seorang bernama Simon yang dipaksa oleh prajurit Romawi untuk memikul salib.

Sesampainya di Galgota, tangan dan kaki-Nya dipaku. Kemudian, Yesus digantung di kayu salib. Yesus merasakan sakit yang luar biasa hingga akhirnya ia mati saat matahari terbenam. Hari inilah yang kemudian menjadi Jumat Agung, hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus.
Saat ini lah umat Gereja Katolik Santo Aloysius Mojosongo berlutut sembari menangis dan berdoa. Visualisasi selesai.

Mettanews berkesempatan menemui Romo Maternus Minarto Pr, Pastor Kepala Paroki Aloysius Mojosongo untuk wawancara selepas visualisasi. Dalam kesempatan itu, Romo Maternus menyebutkan bahwa peristiwa tersebut dimaknai sebagai puncak iman Kristiani.
“Iman Kristiani dan iman Katolik meyakini bahwa peristiwa itu adalah bukti bahwa Allah sangat mencintai umat manusia yang sudah jatuh dalam dosa. Maka ia menebusnya penebusan itu dibayar dengan darah Kristus dengan wafat Kristus,” ujarnya, Jumat (18/4/2025).

“Seperti kasih Kristus sendiri juga menyampaikan tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang menyerahkan nyawa untuk sahabat-sahabatnya dan itu menjadi peristiwa puncak iman Kristiani di mana Yesus wafat dan pada hari ketiga bangkit juga membawa keselamatan bagi seluruh umat,” terangnya.
Visualisasi ini diharapkan mampu membuat umat mengalami peristiwa yang agung sebagai kesempatan mereka untuk bangkit dari segala situasi hidup.

“Ketika mereka menderita mereka masih merasakan ada yang lebih dari saya sehingga mereka membangun kehidupan yang lebih baik bagi umat,” katanya.
Usai Jumat Agung, umat Kristiani akan memperingati Hari Paskah pada Minggu 20 April 2025. Romo Maternus menyampaikan
tema paskah tahun ini adalah kita hidup di dalam pengharapan.

“Kita mempunyai harapan yang sangat kuat di dalam dunia yang saat ini pasti nilai-nilai yang dicari itu lebih nilai-nilai yang terkenal glamour dan sebagainya. Maka tuntutan-tuntutan masyarakat kan lebih pada itu di tengah-tengah masyarakat, tapi kami menawarkan nilai-nilai yang lebih solidaritas, nilai pengorbanan. Kita tidak tahu ke depan akan terjadi apa, tetapi kita selalu penuh harapan karena Tuhan tidak pernah tidur Tuhan akan selalu mendampingi umatnya,” pungkasnya.





















