Permintaan Bahan Minuman Meningkat saat Ramadan, Cincau Hitam Jadi Primadona

oleh
Pedagang
Pedagang bahan minuman di Pasar Gede, Selasa (12/4/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Cincau hitam atau  janggelan menjadi bahan minuman yang paling digemari saat bulan puasa Ramadan. Berbagai daerah termasuk di Solo, masyarakat banyak menggunakan bahan makanan ini untuk membuat minuman segar untuk berbuka puasa. Dengan tambahan es batu, santan dan gula, minuman segar yang terbuat dari daun tanaman mesona palustris atau jenggalan ini jadi minuman favorit oleh kebanyakan orang.

Janggelan memiliki warna kehitaman dengan sedikit warna hijau tua bertekstur seperti agar-agar. Janggelan ini banyak ditemukan di pasaran tradisional, salah satunya di lantai bawah Pasar Gede. Di sana, janggelan banyak dijual utuh sekaleng besar, maupun eceran.

Salah satu penjual janggelan Pasar Gede, Sipon, menuturkan penjualan janggelan di hari pertama Ramadan hingga hari ke-10 puasa Ramadan mengalami kenaikan permintaan. Janggelan yang ia jual pun juga menyesuaikan dengan permintaan pembeli. Sipon menyebut ia melayani pembelian janggelan mulai dari Rp 2.000.

“Orang beli itu ada yang kiloan, belinya per potongan. Kalau untuk pedagang saya jualnya kiloan, Rp 6.000/kg. Kalau eceran bukan kiloan lagi, menyesuaikan. Kalau setengah kilogramnya Rp 3.500,” ungkap Sipon kepada MettaNEWS, Selasa (12/4/2022).

Tidak memproduksi janggelan secara pribadi, Sipon menyebut ia mendapatkan janggelan dari distibutor yang mengirimkannya stok setiap hari ke kiosnya. Dalam sehari penjualan janggelan mencapai 10-35 kilogram.

“Penjualannya tidak menentu, tapi pas puasa pertama itu sampai 50 kilogram janggelan,” ucapnya.

Penurunan permintaan terjadi apabila cuaca berganti menjadi hujan. Banyaknya pembeli yang enggan pergi ke pasar saat hujan turun membuat dagangan di kiosnya sering tidak habis.

“Kalau sore itu hujan jadi penjualannya nggak maksimal. Kalau kenaiakan permintaan tetap ada tapi nggak berpengaruh ke harga. Harga jenggalan tetap stabil. Kalau dibandingkan dengan sebelum puasa ya ini mengalami kenaiakan,” jelasnya.

Namun permintaan ini tentu mengalami penurunan setelah adanya pandemi. Sipon menyebut sebelumnya ia dapat menjual jenggalan dalam skala besar yakni 1 kuintal per harinya.

“Pengunjung pasar juga nggak begitu ramai beda dengan sebelum pandemi. Tapi kalau dibandingkan dengan dua tahun lalu, Ramadan ini yang paling baik,” ucapnya.

Sudah berjualan sejak 2006 silam,  Sipon menyebut permintaan bahan minuman selain janggelan sedikit mengalami kenaikan saat Ramadan. Sehingga ia merasakan setiap perbedaan yang ada dari tahun ke tahunnya di momen perayaan keagamaan maupun momen yang lain.

“Dawetnya banyak yang dibungkus buat dibawa pulang buat berbuka puasa. Untuk porsinya dijual seharga Rp 7.500/plastik,” sebutnya.

“Ini puasa yang ketiga di masa pandemi. Jadi istilahnya kita (pedagang) baru mau bangkit di tahun ini,” terangnya.

Sipon juga menyebut beberapa bahan utama dalam membuat dawet juga mengalami kenaiakan seperti kelapa, gula pasir, tepung dan ketan hitam. Namun meskipun demikian harga per porsi dawetnya masih stabil.

Saat bulan puasa, para pembeli berdatangan saat pagi hari untuk dijual kembali dalam bentuk olahan minuman. Sedangkan untuk waktu siang sampai sore hari Sipon menyebut pembeli merupakan perorangan untuk dikonsumsi secara pribadi. Saat bulan puasa, kiosnya tutup pukul 16.30 WIB.

“Kalau siang hujan sampai malem, paginya itu banyak pedagang yang nyari bahan minuman. Karena kan stoknya habis pas hujan nggak banyak yang mau beli stok,” tuturnya.

Sudah menjadi langganan beberapa kedai minuman maupun restoran di Solo, permintaan jenggalan meningkat di pagi hari.

Selain itu, Sipon juga menjual dawet dan beberapa bahan minuman seperti kolang kaling dengan variasi harga mulai dari Rp 15.000/kg hingga Rp 20.000/kg,  sedangkan untuk jely tersedia dalam bentuk kemasan pabrik dan produksi sendiri dengan harga mulai dari Rp 7.000/kantong. Sama-sama dicari oleh pembeli, untuk kedua jenis jely ini Sipon menyebut tidak ada perbedaan dalam jumlah permintaan.

“Bedanya kalau yang kemasan itu kan lebih awet, yang diproduksi atau diplastikin sendiri itu cuma bisa tahan sampai 3 hari,” ucap Sipon.

Belum mengalami permintaan kolang kaling dalam skala besar saat Ramadan, Sipon menyebut permintaan paling banyak saat pandemi yakni untuk memenuhi kebutuhan berbuka puasa bersama.

“Sebelum pandemi itu biasanya orang beli 20 kilogram untuk buka bersama. Tapi kalau tahun ini belum ada. Baru sedikit kisaran 3 sampai 5 kilogram tiap harinya,” tutupnya.