Peringati Hari Batik Nasional, Keraton Surakarta Sajikan Tari Jemparingan dan Flash Mob Tari Jetayu

oleh
Keraton surakarta
Keraton Surakarta mempersembahkan Tari Jemparingan dan Tari Jentayu di Hari Batik Nasional 2022, MettaNEWS | Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Memperingati Hari Batik Nasional 2022, Keraton Surakarta mempersembahkan sajian Tari Jemparingan dan flash mob Tari Jatayu di halaman Kori Kamandungan, Solo, Minggu (2/10/2022).

Tari Jemparingan merupakan tari yang menggambarkan para prajurit keraton yang sedang berlatih keterampilan perang menggunakan properti panahan. Dimulai sekira pukul 16.00 WIB, 6 penari wanita mulai membawakan Tari Jemparingan di hadapan ribuan masyarakat.

Pengageng Parentah Keraton Surakarta, KGPH Dipokusumo menuturkan semua aktivitas Keraton Surakarta selalu berhubungan dengan empat hal.

“Bahwa setiap aktivitas dalam kegiatan Keraton Surakarta selalu berhubungan dengan yang pertama keris yang sudah ditetapkan dengan UNESCO, kedua batik ketiga gamelan dan yang keempat tarian wayang,” terangnya kepada MettaNEWS, Minggu (2/10/2022).

Persembahan tarian ini bertujuan untuk meningkatkan ekonomi kreativitas sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat.

“Semua merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia dan dipersembahkan ke masyarakat terutama di Solo untuk menimbulkan inspirasi dan  ekonomi kreativitas untuk mensejahterakan masyarakat,” tutur Gusti Dipo. 

Tari Jemparingan merupakan tari tradisi Surakarta berpasangan yang memiliki bentuk sajian pola garap gerak yang bersama-sama, bentuk rias dan busana yang sama, serta tidak ada yang menang ataupun kalah merupakan ciri-ciri dari tari genre wireng. 

Tari Jemparingan menggambarkan prajurit yang berlatih dalam menggunakan senjata gendewa dan keris agar dapat menjalankan tugasnya menjaga ketentraman negara.

Keraton Surakarta
Ratusan masyarakat ikut flash mob Tari Jatayu di Peringatan Hari Batik Nasional Keraton Surakarta, Minggu (2/10/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Selaras dengan tema, ratusan masyarakat yang hadir juga mengenakan batik dan ikut menari bersama dalam flash mob Tari Jatayu Keraton Surakarta.

Jatayu merupakan tokoh yang berwujud burung masuk kedalam kategori tari pethilan cerita Ramayana dan tari putra gagah. Dalam tarian Jentayu menceritakan tentang kegagahan kelincahan dan keberanian Jenthayu dalam membantu Ramawijaya untuk mendapat Shinta kembali yang pada cerita Ramayana telah diculik oleh Rahwana Raja.

Di waktu yang bersamaan Keraton Surakarta juga mempersembahkan Mahakarya Gusti Kanjeng Ratu Pakoe Boewono “Batik: Jiwa dan Semangatku”. 

“Acara ini kedua kalinya semenjak batik ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Keraton Surakarta tentunya sangat berterima kasih karena hampir setiap saat setiap waktu dalam kegiatan upacara selalu menggunakan batik. Bahkan dari Keraton Surakarta itu pada sekitar abad ke 18 era PB VII batik mulai diizinkan digunakan masyarakat,” tambahnya.

Gusti Dipo menyebut ada 3 hal dalam kebudayaan yang diterapkan Keraton Surakarta. Yakni pelestarian, pengembangan dan inovasi batik atau kreativitas. Adanya batik diharapkan mampu menumbuhkan ekonomi kreatif masyarakat.

“Dilaksanakannya hari batik ini diharapkan nanti motif-motif yang ada di keraton mampu jadi inspirasi dari nilai batik tersebut, bisa terserap lagi ke masyarakat sehingga  masyarakat semakin kaya, semakin bisa berkarya, semakin batik ini dicintai,” jelasnya.