SOLO, MettaNEWS – Gabungan Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) indonesia menyatakan harapan agar pemerintah terus mendukung percepatan investasi dalam kemandirian alat kesehatan dan laboratorium (alkeslab).
Pertumbuhan UMKM bidang alkeslab terus meningkat terlebih pasca pandemi Covid dimana masyarakat semakin aware akan kesehatannya.
Pada pameran Alat Kesehatan Dalam Negeri & Desk Konsultasi TKDN UMKM dan talkshow “Fasilitasi Pengembangan Alat Kesehatan bagi UMKM” yang diadakan di Alila Hotel Solo, Kamis-Jumat (18-19/8/2022), Sekretaris Jenderal GAKESLAB Indonesia, dr. Randy H. Teguh menyampaikan investasi sering dikaitkan dengan masuknya perusahaan asing (terutama yang berskala besar) ke Indonesia.
Padahal berdasarkan hasil studi banding GAKESLAB ke negara-negara Asia yang telah mencapai kemandirian alkeslab, seperti Cina, Taiwan dan Korea, kemandirian alkeslab justru didorong oleh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), karena pangsa pasar alkeslab terbatas (umumnya untuk orang sakit).
“Untuk itu, negara perlu mendorong UMKM untuk berinvestasi dalam industri alkeslab serta menjaga investasi mereka dengan memberikan pasar yang sehat. Dalam mendorong investasi UMKM, hal yang harus dilakukan bukan hanya memberikan kemudahan dalam perizinan, tetapi juga pembukaan pasar seluas-luasnya,” tutur Randy.
Randy mengatakan saat ini masih terdapat hambatan-hambatan dalam mengawal investasi, salah satunya adalah harmonisasi peraturan-peraturan yang ada di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI agar tidak menimbulkan kerancuan dalam pelaksanaan di lapangan.
“Kemenperin mendorong proses sertifikasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sebanyak-banyaknya agar UMKM memperoleh prioritas pembelian sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 29/2018, dan dorongan ini merupakan hal yang baik untuk membangun ekosistem alkeslab dan mempercepat kemandirian. Tetapi kita juga harus mengingat bahwa proses ini masih memakan waktu lama dan biaya yang besar (karena terbatasnya lembaga survey untuk sertifikasi TKDN),” ungkap Randy.
Sementara itu, dari data Kementerian Kesehatan mencatat jumlah industri alkes meningkat pesat terutama saat pandemi. Sebelum pandemi, hanya sekitar 150 produsen saja, setelah dua tahun pandemi, tumbuh menjadi sekitar 700 produsen. Beberapa produsen diantaranya berada di Kota Solo.
Randy menyebut Solo termasuk salah satu kota yang mempunyai produsen alat kesehatan yang berkualitas.
“Kota Solo juga mempunyai produsen alat kesehatan yang bagus. Ada yang memproduksi cairan-cairan untuk desinfektan, alkohol. Juga ATMI Solo yang memproduksi alat-alat kesehatan berkualitas,” ungkapnya.
Randy mengatakan di Indonesia ada sekitar 1100 produsen yang 80% nya adalah Industri Kecil Menengah (IKM), karena memang investasi untuk membuat pabrik alkes maksimal Rp 100 miliar. Dari IKM tersebut sebanyak 80% nya juga sudah masuk ke E Katalog, sehingga membuka pasar lebih besar lagi.
“Industri alkes secara umum yang paling penting adalah marketnya, apakah pasarnya cukup besar. Kalau UMKM lokal maka marketnya akan kecil, maka harus skala nasional. Begitu juga beberapa produk alkes kalau diproduksi hanya untuk Indonesia pasarnya juga kecil,” tandas Randy.
Pada kesempatan yang sama, Asisten Deputi Kementerian Koordinasi Maritim dan Investasi, Bimo Wijayanto menjelaskan, industri alat kesehatan memiliki prospek yang bagus.
“Solo memiliki UMKM alkes yang berkualitas. Selain produk, Solo adalah wilayah yang ramah investasi. Dari sisi SDM, alat produksi yang lengkap. UMKM alkes daerah ini perlu didukung demi percepatan investasi UMKM alkes di Indonesia,” pungkas Bimo.







