KUDUS, MettaNEWS – Denting panci, aroma masakan, dan tawa ringan terdengar dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Pattimura, Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
Di sinilah Tri Sugianto (58) dan rekan-rekannya bekerja setiap hari menyiapkan ratusan porsi makan bergizi gratis bagi siswa sekolah.
Tri yang kini menjadi pengawas dapur, dulunya hanyalah pedagang angkringan di kawasan GOR Kudus.
“Saya dulu jualan kopi dan makanan ringan. Sekarang kerja di dapur MBG sejak bulan April,” ujarnya, Selasa (13/10/2025).
Bagi Tri, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, tapi juga ladang kebersamaan.
“Rasanya ringan, suasananya seperti keluarga. Kalau dikejar waktu, semua saling bantu,” katanya sambil tersenyum.
Ia mengaku, sejak bergabung di dapur MBG, kondisi ekonominya membaik. Penghasilannya kini cukup untuk membantu biaya kuliah anak, kebutuhan rumah, hingga menabung.
“Alhamdulillah, sekarang cukup. Tambahan dari sini sangat membantu,” tuturnya.
Tri juga senang karena program MBG membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
“Hampir separuh pekerja di sini warga Jepangpakis dan Karangpakis. Jadi program ini bukan cuma bantu anak sekolah, tapi juga bantu ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Nurwati (52), pekerja bagian packing dapur MBG Kudus. Ia mengaku bersyukur bisa bekerja di sana.
“Awalnya ditawari teman. Sekarang bisa bantu keluarga, bayar sekolah anak, dan tetap punya waktu buat keluarga,” katanya.
Nurwati bekerja mulai pukul 04.00 hingga 12.00. Ia menilai suasana kerja sangat kompak dan penuh kekeluargaan.
“Kalau ada teman enggak masuk, kami kerjakan bareng-bareng. Rasanya seperti keluarga,” ujarnya sambil tersenyum.
Sebagai bagian dari tim pengolah makanan, Nurwati disiplin menjaga kebersihan.
“Harus pakai sarung tangan, masker, kuku enggak boleh panjang. Kalau pilek enggak boleh masuk dapur,” jelasnya.
Dengan penghasilan tambahan dari dapur MBG, hidupnya terasa lebih ringan.
“Suami sudah meninggal, jadi saya kerja sendiri buat mencukupi kebutuhan. Program ini sangat membantu,” tuturnya haru.
Kepala SPPG Jati Kudus, Maulidhina Mahardika, menyampaikan bahwa sebanyak 47 karyawan bekerja di dapur tersebut, seluruhnya warga sekitar.
“Setiap hari kami memproduksi sekitar 3.700 porsi makanan untuk 15 sekolah dan posyandu ibu hamil serta menyusui,” katanya.
Ia menegaskan, seluruh proses memasak dan distribusi dilakukan sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN).
“Karyawan wajib berganti pakaian, memakai hairnet, masker, dan sarung tangan untuk menjaga kehigienisan makanan,” ujarnya.
Menurutnya, program MBG tidak hanya memastikan anak-anak sekolah mendapatkan gizi seimbang, tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui lapangan kerja.
“MBG ini adalah bentuk nyata sinergi antara pemerintah dan warga dalam menjaga gizi sekaligus menggerakkan ekonomi,” pungkasnya.








