SOLO, MettaNEWS – Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia berkolaborasi dengan National Paralympic Committee of Indonesia menggelar Pelatihan Klasifikasi Olahraga Disabilitas Tingkat Nasional kategori disabilitas fisik di Kota Solo, Selasa hingga Jumat (19-22/5/2026).
Pelatihan tersebut digelar untuk meningkatkan efektivitas pencarian dan pembinaan atlet potensial menuju prestasi internasional, termasuk Asian Para Games 2026 dan Paralimpiade 2028.
Sebanyak 45 peserta dari 17 provinsi mengikuti pelatihan intensif selama empat hari. Para peserta berasal dari kalangan fisioterapis dan dokter spesialis, khususnya bidang kedokteran fisik dan rehabilitasi.
Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan berbagai materi mengenai proses klasifikasi calon atlet disabilitas fisik. Salah satu narasumber yang hadir adalah dr. Retno Setianing, Sp.KFR (K), yang selama ini aktif mendampingi pengembangan olahraga disabilitas di Indonesia.
Retno mengatakan, pelatihan klasifikasi sangat penting agar pembinaan atlet disabilitas bisa berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
“Selama ini ada atlet yang sudah dilatih dan dibina maksimal, tetapi ketika masuk proses klasifikasi ternyata tidak memenuhi syarat. Sangat disayangkan karena pembinaan dan pembiayaannya sudah berjalan,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga klasifikator atau classifier, khususnya untuk kategori disabilitas fisik, agar proses identifikasi calon atlet potensial dapat dilakukan secara tepat sejak awal.
“Kita memang harus memperbanyak classifier, terutama classifier fisik, supaya ketika ada penyandang disabilitas yang tertarik berolahraga prestasi, mereka bisa langsung diperiksa apakah memenuhi syarat atau tidak,” jelas Retno.
Tak hanya mengikuti teori di Hotel Solia Zigna Solo, para peserta juga menjalani praktik langsung di Pusat Pelatihan Paralimpiade Indonesia. Di lokasi tersebut, peserta melihat proses latihan atlet sekaligus melakukan praktik klasifikasi pada beberapa cabang olahraga.
Retno menambahkan, seluruh peserta nantinya juga harus mengikuti ujian sebelum dinyatakan layak menjadi classifier.
“Ini proses yang tidak main-main karena mereka akan punya tanggung jawab di daerah masing-masing. Mereka harus lolos terlebih dahulu sebelum menjadi classifier,” katanya.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal NPC Indonesia, Rima Ferdianto, menjelaskan bahwa pelatihan kali ini merupakan tahap pertama yang diikuti peserta dari wilayah Indonesia bagian barat, meliputi Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Tahap berikutnya direncanakan digelar pada kuartal ketiga tahun 2026 dengan fokus peserta dari kawasan Indonesia Timur.
“Kemungkinan kawasan Indonesia Timur bisa ikut sekitar bulan September nanti,” ujar Rima.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan lebih banyak classifier nasional yang nantinya dapat membantu NPC daerah dalam mencari dan mengklasifikasikan atlet disabilitas secara tepat dan akurat.
“Harapannya dapat melahirkan banyak classifier nasional yang bisa membantu pengembangan olahraga disabilitas secara merata di seluruh Indonesia,” katanya.
Hal senada disampaikan Plt Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora, Leny Kurnia. Menurutnya, kebutuhan tenaga klasifikator olahraga disabilitas saat ini masih sangat besar.
“Kita membutuhkan banyak pelatih klasifikasi disabilitas ini. Diharapkan peserta yang mengikuti pelatihan bisa menularkan ilmunya kepada rekan-rekan di daerah masing-masing,” ujarnya.
Sebagai informasi, sistem klasifikasi dalam olahraga disabilitas menjadi bagian penting untuk mengelompokkan atlet berdasarkan jenis dan tingkat hambatan yang dimiliki. Sistem tersebut diterapkan agar seluruh atlet dapat bertanding secara adil dan setara.








