Cuma Dapat 1 Murid Baru karena Zonasi dan Fasilitas Bobrok, SDN Sriwedari No 197 Akan Di-regrouping

oleh
Sekolah Dasar Negri (SDN) Sriwedari No.197 yang terletak di Jl. Kebangkitan Nasional, Sriwedari, Laweyan, Solo | MettaNEWS / Kevin Rama

SOLO, MettaNEWS – Sekolah Dasar Negri (SDN) Sriwedari No.197 yang terletak di Jl. Kebangkitan Nasional, Sriwedari, Laweyan, Solo, hanya mendapatkan 1 Siswa dalam masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2022.

Kepala sekolah SDN Sriwedari No.197, Bambang Suryo Riyadi mengungkapkan, Berkurangnya siswa yang mendaftar ini sebenarnya sudah berlangsung lama terlebih lagi ditambah sistem zonasi yang telah berlangsung dari 2017 semakin mempersulit mendapatkan peserta didik.

“Padahal wilayah dari SD ini berada ditengah kota dan ramai juga kegiatan masyarakat disekitar sini, namun untuk pemukiman warga sangat jauh jadi terkena zonasi,” Ungkapnya saat ditemui MettaNEWS di SDN Sriwedari Kamis (7/7/2022).

Bambang mengungkapkan, pada tahun ini sekolah sebenarnya memiliki 3 orang pendaftar. Namun 2 pendaftar lain menjadikan sekolah itu sebagai pilihan kedua, dan hanya 1 yang menjadikan SDN Sriwedari sebagai pilihan utama. Sehingga hanya 1 pendaftar yang dipastikan akan menjadi murid SD itu.

“Karena di sini kan lingkungannya perhotelan, ruko, Gor, jadi jarang penduduknya. Kebanyakan juga yang menengah ke atas, mereka lebih memilih ke swasta,” ujarnya.

Padahal, SDN Sriwedari menjadi satu-satunya sekolah negeri di Kelurahan Sriwedari. Pada PPDB kali ini zonasi SDN Sriwedari mencakup Kelurahan Sriwedari dan Panularan.

Selain faktor zonasi, Bambang menilai kekurangan murid ini juga dipengaruhi faktor fasilitas sekolah yang kurang memadahi. Ditambah dengan beberapa rusaknya infrastruktur kelas.

“Banyak di kelas yang atapnya bocor, lapuk, bahkan musala juga atapnya sudah roboh, rumah penjaga juga sudah bisa ditempati, di sini juga nggak ada penjaga, dari dinas pendidikan (disdik)juga sudah meninjau namun belum ada tindakan,” ungkapnya

Opsi selanjutnya, Bambang menggunakan bahwa Disdik merencanakan sekolah itu akan di-regrouping alias digabung dengan sekolah lain.

Ia juga menilai faktor rencana regrouping ini juga yang membuat orang tua enggan mendaftarkan anaknya ke SDN Sriwedari, karena khawatir dipindah di tengah jalan.

Dari data yang dikemukakan, SDN Sriwedari terus mengalami penurunan siswa dimana, pada kelas I hanya memiliki 2 (pendaftar baru dan tinggal kelas), kelas II 4 siswa, kelas III 3 orang, Kelas IV 8 siswa, kelas V 17 siswa, dan kelas VI 11 siswa.

Meski kekurangan murid, sekolah tetap akan memberi kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti biasa.

Bambang juga tak sepenuhnya menyalahkan zonasi sebagai faktor kekurangan murid. Ia mengakui tanpa zonasi pun sekolahnya tetap kesulitan mencari pendaftar. Baginya wacana regrouping menjadi rencana paling masuk akal. Namun rencana itu memerlukan kajian lebih lanjut.