SOLO, MettaNEWS – Banyak yang mengira pemain barongsai hanya berasal dari keturunan etnis Tionghoa saja. Namun nyatanya tidak demikian. Salah satu kelompok barongsai asal Solo, Tripusaka membuktikan anggapan ini salah. Pasalnya dari total anggotanya yang berjumlah 60 orang, siapa sangka 90 persen di antaranya merupakan etnis Jawa.
Pembina Kelompok Barongsai Tripusaka, Adjie Chandra mengatakan pemain barongsai Tionghoa mulai berkurang seiring berjalannya waktu. Sejak ada dari tahun 1999 awalnya Barongsai Tripusaka miliki ratusan anggota yang mana jumlah etnis Tionghoa tidak lebih sedikit dari pada yang sekarang.
“Ras 90 persen orang Jawanya, hanya satu dua saja bisa dihitung dengan jari orang Tionghoa. Kalau dulu pas awal-awal ya bisa 25 sampai 30 persen orang Tionghoanya,” kata dia ketika mengawasi latihan di Lithang Gerbang Kebajikan Solo, Sabtu (14/1/2023).
Banyak warga keturunan Tionghoa yang merantau ke luar Solo jadi penyebab berkurangnya keanggotaan dari etnis asal kesenian ini. Selain itu minat warga keturunan Jawa justru lebih besar.
Kendati demikian Adjie tidak mempermasalahkan apabila pemain barongsai lebih banyak etnis Jawa ketimbang orang Tionghoa. Justru hal ini membanggakan baginya karena ada keberagaman dalam satu budaya. Pun ia berharap generasi Tionghoa mau melestarikan kebudayaan barongsai ini.
“Bagaimanapun ini juga budaya atau tradisi kesenian leluhur yang sekarang sudah diterima masyarakat, kalau nggak mau jadi pemain barongsai paling mengerti makna dan filosofinya,” harapnya.
Selain etnis yang berbeda, para pemain barongsai Tripusaka ternyata juga memiliki latar belakang agama yang bermacam-macam. Mulai dari muslim, nasrani dan juga Khonghucu.
“Anggota saya beraneka ragam dari yang agama Islam sama Kristen, Katolik, yang Konghucu hanya beberapa ya satu dua,” kata dia.
Kelompok Barongsai Tripusaka Miliki Segudang Prestasi
Kelompok barongsai yang ia pimpin juga miliki segudang prestasi tingkat nasional. Tercatat kini kelompok tersebut telah memboyong 70 piala kejuaraan barongsai. Maka tak ayal jika kelompok barongsai yang satu ini jadi yang terkenal di Solo hingga kerap wara wiri saat perayaan Imlek.
“Dari 60-an anggota itu mereka terbagi menjadi beberapa kelompok dan bermain ke beberapa lokasi sekaligus. Ini yang paling banyak ya dari mal-mal Solo. Ada yang minta pebtas sekali ada juga yang dua kali. Kalau yang lain ya ada, kaya sekolah, instansi atau perusahaan,” jelasnya.







