Umat Hindu di Solo Gelar Larung Abu Jenazah di Sungai Bengawan Solo Naik Kapal Naga Basuki

oleh
larung
Tradisi larung abu jenazah umat Hindu di Sungai Bengawan Solo, Rabu (18/1/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Umat Hindu di Kota Solo menggelar tradisi larung atau labuh abu jenazah ke baruna atau air di Sungai Bengawan Solo dengan menaiki perahu naga basuki, Rabu (18/1/2023).

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Solo, Ida Bagus Komang Sarnawa mengatakan sebelum prosesi larung terlebih dahulu umat Hindu tersebut menggelar tradisi ngaben atau membakar mayat di Delingan, Karanganyar.

“Rangkaian daripada nglabuh atau ngelarung sudah di awali dengan kremasi atau ngaben pembakaran mayat mengembalikan ke Panca Maha Butha dari tanah air api angin angkasa,” kata dia.

Tradisi membuang abu jenazah ke perairan melambangkan pemutusan total atma terhadap ikatan duniawi setelah sebelumnya tersucikan melalui api.

“Manusia tercipta dari air api tanah, ini sudah ke air kemudian akan kembalik lagi ke tanah. Dengan prosesi ini atma  bisa lebih cepat sampai. Jadi ini merupakan sarana istilahnya kalau mau bepergian kita bawa sangu atau bekal,” jelasnya.

Dalam tradisi Hindu, larung abu jenazah ini pihaknya menyiapkan sarana lengkap seperti banten pejati sesaji. Yang mana banten merupakan persembahan dan sarana bagi umat Hindu mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sang Pencipta. Merupakan wujud rasa terima kasih, cinta dan bakti pada beliau karena limpahan wara nugraha-Nya.

“Ini sarana prasarananya lengkap pejati bebantenan sesaji sesuai dengan ajaran agama Hindu yaitu 3 kerangka berdasarkan falsafahnya. Acuan susila ini wujudnya upacara tidak boleh terpisahkan. Dasarnya takwa mengacu pada susila baru ritualnya pada hari ini dikembalikan ke baruna atau air,” jelas dia.

Sungai Bengawan Solo terpilih sebagai lokasi larung ini sebab umat Hindu di Solo percaya abu jenazah tersebut akan tetap mengalir ke laut.

“Sebenarnya laut tapi ini juga bakal ke laut,  ini tujuannya umat Hindu yang di Solo. Kami juga mendapat izin untuk mengadakan larungan. Kami dari Parisada Hindu Dharma Kota Surakarta mengucapkan terimakasih atas diizinkannya tradisi ini jadi lebih mudah,” pungkasnya.