Puncak Nyepi 1944 Usai, Dharma Santhi Bentuk Aktualisasi Nilai Moderasi Beragama di Solo

oleh
Perayaan Dharma Santhi puncak Hari Raya Nyepi 1944, Balai Kota Solo, Minggu (3/4/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Umat Hindu di Solo menggelar acara puncak peringatan Hari Raya Nyepi yaitu Dharma Santhi Tahun Baru Saka 1944 bersama Tni Polri dan PNS Solo, di Balai Kota Solo, Minggu (3/4). Acara yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB tersebut berjalan sesuai dengan rangkaian Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 3 Maret lalu.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Solo, Ida Bagus Komang Sarnawa menyebut serangkaian Hari Raya Nyepi diawali dengan padusan atau Melasti yang merupakan upacara adat yang bertujuan menyucikan diri dan membersihkan alam dari energi negatif. Rangkaian ini berlanjut dengan Tawur Agung Kesanga yang merupakan upacara Bhutayadnya yang dilakukan untuk kesejahteraan dan keselarasan alam.

Kemudian acara berlanjut dengan serangkaian acara Catur Brata Penyepian di mana selama dilaksanakannnya acara ini seluruh aktivitas Umat Hindu diistirahatkan.

“Pada rangkaian acara sebelumnya yaitu Catur Brata Penyepian yaitu Umat Hindu tidak menyalakan api, tidak bekerja maupun berpergian dan tidak melakukan senang-senang. Dalam hati Umat Hindu.itu semua dilakukan untuk mengintropeksi diri supaya pikiran tidak kemana-mana. Hanya fokus melaksanakan mengayu bagya bersykur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian puncaknya pada hari ini,” tutur Ida Bagus Komang Sarnawa saat ditemui di sela-sela acara, Minggu (3/4).

Dharma Santhi ini merupakan acara yang digelar untuk Umat Hindu sebagai bentuk saling memaafkan. Rangkaian acara Dharma Santhi diawali dengan Atur Piuning yang dilaksanakan sebagai suatu upacara memohon restu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dan Para Batara atau leluhur agar diberi keselamatan.

Tari Margapati pada acara Dharma Santhi di Balai Kota Solo, Minggu (3/4/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Tema Dharma Santhi kali ini yaitu Aktualisasi Nilai Tat Twam Asi dalam moderasi beragama menuju Indonesia maju dengan tekad dan doa Umat Hindu Dharma Kota Surakarta berawal dari Solo untuk Indonesia. Sehingga dengan puncak perayaan ini berbagai harapan dapat terwujud salah satunya mewujudkan bangsa yang tenteram, damai, menjadikan masyarakat yang toleran serta menciptakan persatuan dan keharmonisan dalam kemajemukan bangsa Indonesia.

“Jadi kita moderasi yang berkaitan dengan toleransi. Tat Twam Asi ini mempunyai arti saya adalah kamu, saya adalah kamu.  Jangan coba-coba mencubit orang lain kalau tidak ingin dicubit. Jangan jangan kamu mencoba menyakit orang lain kalau kamu tidak ingin disakiti,” tuturnya.

Dilaksanakan di bulan Ramadan, sejumlah tamu undangan tidak hadir termasuk Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming yang mewakilkan kehadirannya kepada Asisten Pemerintahan Kota Solo, Tamso. Dikatakan Ida Bagus Komang Sarnawa, Dharma Santhi kali ini Gibran tetap menyambut dan mengapresiasi pelaksanaan Dharma Shanti di Balai Kota Solo. Sehingga Gibran siap menfasilitasi tokoh-tokoh agama yang berkaitan dengan Balai Kota Solo sebagai tempat warga berkegiatan.

Berjalan tanpa ada kendala, pihaknya menyebut toleransi di Kota Solo sangatlah bagus. Hal ini dibuktikan dengan diraihnya Kota Solo sebagai kota paling toleran nomer 9.

“Toleransi di Solo ini bagus sekali. Terlebih juga kota ini mendapatkan penghargaan 9 kota yang paling toleransi. Sehingga kita bisa hidup berkesinambungan dan rukun tanpa mengganggu peribadatan agama lain,” tambahnya.

Berakhirnya perayaan Hari Raya Nyepi 1944 ini, pihaknya berharap untuk kedepan bisa lebih mendukung pemerintah secara bersama-sama mencegah adanya in toleransi.

“Sehingga kedepannya kita bersama-sama baik dengan tokoh agama yang terbentuk di Kota Solo ini dapat mencegah adanya in toleransi,” pungkasnya.