SOLO, MettaNEWS – Sejarah unik Pura Indra Prasta, tempat peribadatan umat Hindu di Solo. Pura yang terletak di Kampung Mutihan, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan ini telah berdiri sejak 1968. Namun pada tahun tersebut pura ini hanya memiliki satu bangunan candi yang terletak di tengah. Digunakan untuk tempat pribadatan seadanya, 54 tahun silam umat Hindu di Solo beribadah di tengah kegiatan ternak yang digembala. Untuk saat ini candi tersebut berada di Mandala Utama yang digunakan sebagai Rumah Tuhan Pura Indra Prasta.
Kepala Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Ida Bagus Komang Sawarna menyebut pada 2003 lalu, bangunan ini dibangun kembali dan menjadi pura yang lengkap sebagai tempat peribadatan. Memiliki struktur bangunan seperti Padma Sana yang berfungsi untuk menetralisir energi negatif dan positif, bangunan ini dibalut kain corak kotak-kotak berwarna hitam dan putih. Sedangkan struktur bangunan lain terdiri dari Mandala Utama, Manada Tengah dan Mandala Luar.
“Kalau yang awal cuma sedikit bangunan pura ini nggak ada apa-apanya. Kalau sembahyang ada sapi kambing. Setelah berlanjut terakhir 2003 di sini sudah lengkap dan swadaya umat Hindu yang ada bisa terus gotong royong untuk menciptakan pura ini. Dan salah satunya sesepuh saya yang betul-betul berperan aktif Bapak Dr. Indra Bagus Mitrea. Jadi beliau yang berperan serta dan memprakasai Pura di Solo ini. Beliau yang lebih banyak berkontribusi baik pikiran, tenaga dan materiil bagi umat Hindu,” terang Ida Bagus, saat ditemui MettaNEWS pada perayaan Piodalan, Minggu (16/5/2022).
Bangunan seluas 785m2 ini pada awalnya merupakan tanah milik pemerintah dengan hak guna bangunan pada tahun 1992.
“Tanah Pura ini memang tanah pemerintah dari hak guna bangunan 30 tahun yang lalu, kita proses 20 tahun kemudian kita mengajukan untuk hak milik. Sehingga hak milik itu sertifikatnya sudah dibuat izin mendirikan bangunan juga sudah. Sudah tercacat ke Kementrian Agama (Kemenag) sudah sebagai tempat ibadah. Jadi semuanya sudah sesuai dengan peraturan pemerintah, sehingga kita tidak ada was-was lagi meskipun puranya ada di kampung non Hindu,” jelas Ida.
Keberadaan pura ini justru bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Hal ini dibuktikan dengan dimanfaatkannya Pura Indra Prasta sebagai tempat pengungsian banjir di Kampung Mutihan pada beberapa waktu yang lalu.
“Di sini masyarakat yang kebanjiran malah bisa ada di Mandala luar. Nggak boleh masuk ke Mandala Utama karena ini rumah Tuhan dalam arti yang suci-suci ada di sini karena ini untuk sakralisasi,” ucap Ida Bagus.
Dengan bertambahnya usia pura ini, pihaknya berharap umat Hindu dan masyarakat di sekitar pura dapat menjaga komunikasi dengan baik.
“Tentu harapannya kita tetap menjaga suatu komunikasi sama warga masyarakat sekitar, kaitannya dengan toleransi itu kita wujudkan. Kita realisasikan disini, betul-betuk dengan masyarakat. Tidak ada masalah, tempat parkir di luar area Pura ini, Masjid. Ini lah bentuk kebersamaan karena kita sudah melibatkan pengetahuan toleransi,” ucap Ida.
Pura yang terletak di Kampung Mutihan dengan tiga tempat peribadatan yakni masjid, gereja Kristen dan gereja Katolik ini dapat berdampingan untuk melakukan peribdatan masing-masing.
“Kita tetap akan menjaga saja. Karena bangunannya sudah bisa sudah melebihi dari yang lain, tempat-tempat Pura yang lain. Cuma memang tempat parkirnya yang kurang memadai. Tapi tidak masalah yang penting kita berkontibusi dipakai warga, bisa bersinergi bersama-sama. Kedepannya ini tetap lestari seperti ini sehingga umat yang ada di sini menjaga, nyaman, tidak ada rasa was-was,” pungkasnya.
Selain kegiatan peribadatan, Ida Bagus menyebut pura ini juga digunakan untuk kelas tari, bahasa Inggris, pelatihan sesajen dan pendidikan budi pekerti.
“Ibu-ibu membuat sesajen dari pagi sampai soreuntuk menyiapkan acara namanya gotong royong Serati Banten. Rati Banten itu adalah perkumpulan yang membuat sesaji itu sehingga antara seni dan budaya, adat dan agama itu menjadi satu. Tapi dibungkus dengan agama ada budaya seni,” pungkasnya.







