Pura Indra Prasta Solo Gelar Piodalan, Ini Maknanya

oleh
Piodalan
Piodalan Pura Indra Prasta ke-19, Kampung Mutihan, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Solo, Minggu (15/5/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Tempat peribadatan umat Hindu di Solo, Pura Indra Prasta memasuki usia yang ke-19 tahun, Minggu (15/5). Terhitung sejak lengkapnya bangunan di 2003 lalu, acara hari jadi tempat suci ini dalam Hindu disebut Piodalan. Upacara Piodalan merupakan kewajiban karma desa dalam rangka membayar utang ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta seluruh manifestasinya di pura kayangan desa.

Dihadiri sekitar 350 umat Hindu se-Solo, acara Piodalan menjadi kali pertama kembali diadakan setelah terhenti selama dua tahun.

“Pertama kali diadakan dari Covid tahun 2020 kan tidak boleh, ini 2022 kita baru melaksanakan. Karena kemarin Covid kita menghormati dan juga untuk mengantisipasi yang terpapar sehingga dengan sudah adanya Surat Edaran dari Wali Kota Solo, kaitan dengan dibukannya kegiatan di tempat peribadatan sebanyak 75%. Maka kita adakan Piodalan ini,” terang Ida Bagus Komang Sarnawa, pada Piodalan Minggu (15/5/2022).

Pura yang memilki kapasitas sekitar 500-600 orang ini hanya digunakan sebesar 50% kapasitas untuk acara Piodalan. Selain dijadikan kegiatan beribadah umat Hindu seperti perayaan hari raya, juga digunakan untuk kegiatan lain seperti kelas tari, pelatihan sesajen, dan pendikan budi pekerti.

“Kita masih sisakan 50% lah supaya tetap menjaga dan antisipasi jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” imbuhnya.

Piodalan
Piodalan Pura Indra Prasta ke-19, Kampung Mutihan, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Solo, Minggu (15/5/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Piodalan ini memiliki prosesi sakral penjemputan Dewa Dewi yang disambut dengan tarian di Mandala Luar Pura Indra Prasta.

“Kita kan mengundang Dewa Dewi yang ada di mana-mana untuk minta doa restu seperti tamu namanya. Disambut dengan tari sakral juga, nanti kita kembalikan lagi di monggok e (di persilakan). Setelah kita persilakan ikut menikmati hidangan ini kan termasuk yang dipersilakan ke Dewa Dewi. Setelah kita persilakan baru kita nikmati bersama setelah itu kita kembalikan lagi. Dalam bahasa Jawa istilahnya Nguntapke Tamu, kita menguntapkan lagi untuk doa kembalinya Dewa Dewi lagi ke kayangan dan sebagainya,” terang Ida.

Menyajikan berbagai sajian, setiap apa yang ada di atas meja dengan balutan kain berwarna kuning dan putih ini memiliki makna. Dimana sajian ini dihaturkan kepada Tuhan sebagai rasa syukur dan setelah haturan ini selesai, para umat Hindu dapat menikmati bersama-sama.

“Makna makanan yang disajikan, Pajegan melambangkan suatu rasa syukur kepada Tuhan itu kita wujudkan dalam sajian buah, minuman, jajanan, bunga. Wujud dari bersyukur kepada Tuhan. Kita haturkan kepada Tuhan tapi kita nikmati juga setelah kita haturkan baru kta menikmati. Tidak boleh kita makan dulu sebelum kita haturkan itu namanya mencuri. Nanti dibagikan, dimakan bersama,” ucapnya.

Sementara itu, Jero Mangku Pura Indra Prasta, Bagyo Hadi menuturkan acara Piodalan ini terdiri dari serangkaian acara. Yakni sebelum Piodalan semua umat Hindu dibersihkan lahir dan batin.

“Piodalan, Odal yang artinya methuk dari keluar. Makanya di ulang tahuni. Sudah dibersihkan dulu (umat Hindu) lahir dan batinnya. Artinya kita ikut Piodalan ini di dalam pura ini secara lahir dibersihkan. Tapi secara spiritual kita juga dibersihkan dengan upacara namanya pembersihan. Setelah pembersihan berhasil dilanjutkan Mecaru,” jelas Bagyo Hadi saat ditemui MettaNEWS di Mandala Utama Pura Indra Prasta, Minggu (15/5/2022).

Mecaru ini merupakan upacara yang dilaksanakan untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam oleh umat Hindu.

“Mecaru itu ada persembahan kalau di dalam agama Hindu namanya Butha Yadnya. Kita memebri keseimbangan kepada energi-energi yang tidak kelihatan. Kalau kita namanya Butha Kala. Alam-alam yang tidak kelihatan ini juga kita bersihkan supaya tidak ada yang mengganggu. Jangan menggoda saya dan saya tidak mengganggu,” tutupnya.