Sembahyang Cheng Beng, Ritual Penghormatan Leluhur Umat Khonghucu di Klenteng Hok Tek Tjeng Sien Solo

oleh
sembahyang cheng beng
Kertas sembahyang dibakar dalam prosesi sembahyang Cheng Beng umum di halaman Klenteng Hok Tek Tjeng Sien atau Thiong Ting Surakarta, Minggu (12/4/2026) | Dok. PMS

SOLO, MettaNEWS – Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Surakarta bersama Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) menggelar sembahyang Cheng Beng umum di halaman Klenteng Hok Tek Tjeng Sien atau Thiong Ting Surakarta, Minggu (12/4/2026).

Kegiatan sembahyang Cheng Beng ini merupakan tradisi tahunan umat Khonghucu sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengenangan kepada para leluhur. Sekitar 150 peserta hadir mengikuti rangkaian ibadah yang dimulai pukul 11.00 WIB dengan penuh khidmat.

Prosesi Cheng Beng memiliki makna mendalam, tidak hanya sebagai ritual spiritual, tetapi juga sebagai sarana mempererat nilai kekeluargaan dan penghormatan terhadap asal-usul.

Para peserta mengikuti tahapan demi tahapan dengan tertib sesuai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Prosesi Cheng Beng dimulai dengan keluarga menyiapkan berbagai perlengkapan, seperti alat kebersihan (sapu dan kuas), sesajian berupa buah, kue, serta makanan (vegetarian maupun non-vegetarian seperti ayam atau babi). Selain itu, dupa (hio) dan kertas sembahyang juga dipersiapkan.

Setibanya di area pemakaman, keluarga membersihkan makam dari rumput liar dan kotoran sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Prosesi selanjutnya yakni meletakkan kertas persembahan. Kertas perak atau kertas warna-warni diletakkan di atas makam sebagai tanda bahwa makam telah dibersihkan dan siap untuk prosesi sembahyang.

sembahyang cheng beng
sembahyang Cheng Beng umum di halaman Klenteng Hok Tek Tjeng Sien atau Thiong Ting Surakarta, Minggu (12/4/2026) | Dok. PMS

Dilanjutkan dengan sembahyang dan doa, lilin dan dupa dinyalakan, kemudian anggota keluarga bersembahyang secara bergantian, dimulai dari yang tertua. Doa dipanjatkan agar leluhur mendapatkan ketenangan di alam baka.

Selanjutnya, kertas sembahyang serta replika kebutuhan seperti uang dan pakaian dibakar sebagai simbol pengiriman rezeki kepada leluhur di alam sana.

Setelah seluruh rangkaian ritual selesai, makanan persembahan dinikmati bersama oleh keluarga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Melalui kegiatan ini, MAKIN dan PMS berharap tradisi Cheng Beng tetap lestari dan dapat terus diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya dan nilai spiritual masyarakat Tionghoa di Indonesia.