SOLO, MettaNEWS – Perpustakaan Masjid Agung Keraton Surakarta miliki manuskrip kuno berisi hadis, tafsir, fqih, informasi hukum-hukum islam. Maupun kitab kuning, serta buku-buku tentang sejarah peradaban Islam dan sejarah Keraton Surakarta.
Manuskrip ini merupakan naskah tulisan tangan para ulama berupa aksara Arab Pegon dengan teks berbahasa Jawa. Manuskrip ini menjadi kajian filologi strategi dan basis pembelajaran serta kaderisasi ulama.
Menurut penuturan Ketua Takmir Masjid Agung Keraton Surakarta, Muhtarom ada 107 manuskrip kuno yang telah ada sejak tahun 1600-an.
“Penulisannya itu memakai Arab, ada yang Jawa tapi Jawa yang Arab yakni Arab Pegon. Dulu kan sebuah strategi, orang Jawa dulu tidak menggunakan tulisan seperti ini. Semua ulama dan orang-orang dulu seperti itu. Mungkin ada maksud lain, saya kurang tahu,” terang Muhtarom, Selasa (28/3/2023).
Manuskrip kuno Masjid Agung Keraton Surakarta miliki bahan yang berbeda-beda. Ada yang terbuat dari kulit maupun deluwang atau lembaran tipis dari kulit pohon daluang sebagai media tulis zaman dahulu.
Manuskrip Kuno Keraton Surakarta Berusia Ratusan Tahun
“Manuskrip ini variatif ada dari sekitar tahun 1600-an. Wujudnya kertas deluwang ada yang kulit sekitar abad 17 atau 18 itu. Sebelumnya kan modelnya kulit, itu lebih awal malahan era tahun 1500 atau 1600,” terang dia.
“Boleh jadi karya itu lebih tua. Tidak pada era Paku Buwana 10, boleh jadi pada Paku Buwana 2 atau 3 atau sebelumnya. melihat dari konstruksi media materialnya, nah yang kulit lebih tua,” imbuhnya.
Kondisi manuskrip kuno ini sempat memprihatinkan. Bagaimana tidak, sebagai harta peninggalan, manuskrip tersebut pernah di makan rayap dan terendam banjir. Hingga terancam punah.
“Kami berupaya semaksimal mungkin untuk alih media. Manuskrip kan barang antik dan rapuh. Apalagi dulu pernah termakan rayap, pernah mengalami banjir tahun 1966 Solo banjir besar. Sangat berakibat pada eksistensi manuskrip sendiri,” terang Muhtarom.
Untuk menjaga dan melindungi naskah-naskah tua ini, Masjid Agung Keraton Surakarta membuatnya beralih ke digitalisasi pada tahun 2007.
“Oleh karena itu, kita adakan alih media. Secara mandiri ataupun kerja sama dengan Perpusnas dan UIN Solo. Ke depan manuskrip ini layanan yang bisa dilakukan perpustakaan dengan tidak membuka material (aslinya). Tapi dengan membuka media yang ada (alih media) secara digital,” tutur Muhtarom.
Harapan ke depan Masjid Agung tidak hanya mempertahankan material manuskrip kuno ini. Tapi mampu dieksplorasi tata nilai maupun pesan yang ada dalam manuskrip itu.
“Itu ada hal-hal kemudian bisa diambil hikmahnya bisa kita terapkan ke depan sebagai khasanah keilmuan. Kemudian menjadi kebijakan dalam pengembangan keilmuan,” ujar Muhtarom.
“Karena Masjid Agung ini kan sebagai pusat ilmu dulunya. Sehingga benda manuskrip itu tidak hanya jadi barang mati. Tapi nilainya hidup selama lamanya tidak akan mati kalau kita mampu mengelola itu,” tandasnya.








