107 Manuskrip Kuno Masjid Agung Keraton Surakarta Didigitalisasi, Pengunjung Tetap Bisa Lihat di Perpustakaan

oleh
Manuskrip kuno
Perpustakaan Masjid Agung Keraton Surakarta lokasi penyimpanan manuskrip kuno, Selasa (28/3/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Sebanyak 107 manuskrip kuno perpustakaan Masjid Agung Keraton Surakarta telah terdigitalisasi. Hal ini untuk menyelamatkan naskah kuno bersejarah tersebut yang telah termakan usia.

Selain pernah terendam banjir tahun 1966, manuskrip kuno Masjid Agung juga hampir punah lantaran termakan rayap. Bagian-bagiannya pun tercerai berai.

Tim Media dan Publikasi Masjid Agung Keraton Surakarta, Yan Abi Krisna (26) menuturkan masih ada ribuan manuskrip kuno yang belum terdigitalisasi lantaran terkendala beberapa hal. Salah satunya bagian-bagian yang bolong akibat termakan rayap.

“Sementara yang sudah kami digitalisasi manuskripnya ada 107 naskah. Belum semua masih banyak yang belum. Kalau yang belum itu kendalanya banyak yang utama kayak belum bisa jadi satu sama bolong-bolong,” ujar Yan kepada MettaNEWS, Selasa (28/3/2023).

Kendala lain digitalisasi manuskrip kuno ini ialah masalah internal Keraton Surakarta.

“Kita masih belum boleh rawat karena ada yang belum bisa kami selesaikan soal internal Keraton. Kalau yang bolong itu sebenarnya yang menghambat proses digitalisasi manuskrip. Tapi masih ada yang bisa digitalisasi,”ujar dia.

Perawatan Khusus Manuskrip Kuno

Manuskrip
Manuskrip kuno yang sudah ditempel tersimpan perpustakaan Masjid Agung Surakarta, Selasa (28/3/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Manuskrip kuno memerlukan perawatan khusus agar kondisinya tetap baik. Sesuai arahan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) perawatan mulai pengelola lakukan dari pengaturan suhu ruangan.

“Dapat arahan dari Perpusnas untuk perawatan kalau bisa suhunya terjaga. Dari antara suhu malam dan suhu pagi itu tidak jauh berbeda. Kita kan pakai AC jadi dari suhu 22 sampai 23 derajat Celcius,” tutur Yan.

Untuk mencegah adanya jamur, tempat manuskrip diganti secara berkala selama 4 hingga 6 bulan sekali.

“Kalau bisa 6 bulan sekali atau 4 bulan sekali sering diganti bemper pelembabnya. Mungkin seminggu sekali atau dua minggu sekali kemarin kacanya buat dibuka itu takutnya jamur. Kalau sekarang alhamdulillah rayapnya sudah nggak ada,” terangnya.

Digitalisasi ini dapat memudahkan pembaca tanpa harus datang langsung ke perpustakaan. Meski begitu perpustakaan Masjid Agung Keraton Surakarta masih mengizinkan apabila ada pengunjung yang ingin melihat manuskrip secara langsung.

Tentunya dengan tetap berhati-hati agar naskah kuno tetap dalam kondisi baik. Perpustakaan ini buka setiap Senin hingga Sabtu pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

“Jam operasional perpustakaan buka dari jam 08.00 sampai jam 04.00 sore. Kita libur pas hari libur atau hari besar nasional sama Minggu,” jelasnya.