SOLO, MettaNEWS – Wali Kota Surakarta Respati Ardi menekankan pentingnya penguatan budaya literasi sejak jenjang pendidikan dasar sebagai bekal menghadapi derasnya arus informasi di era digital. Respati mengungkapkan kebiasaan membaca, menulis, dan merangkum perlu kembali menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran di sekolah.
Hal itu disampaikan Respati saat menghadiri Gerakan Literasi Digital bersama Bunda Literasi se-Jawa Tengah di Balai Kota Solo, Kamis (16/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi ajang kolaborasi untuk memperkuat budaya literasi sekaligus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan di Jawa Tengah.
Respati mengatakan, perkembangan teknologi digital membawa banyak kemudahan dalam mengakses informasi. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga menuntut masyarakat memiliki kemampuan literasi yang baik agar mampu memilah informasi yang benar dan bermanfaat.
Karena itu, ia mendorong agar penguatan literasi dimulai dari hal-hal mendasar melalui proses belajar di sekolah, terutama pada jenjang pendidikan dasar.
“Kami mendorong agar budaya membaca dan menulis dapat diperkuat melalui kurikulum lokal. Dengan membaca, menulis, dan merangkum, anak-anak akan memahami isi tulisan itu,” ujar Respati.
Menurutnya, memasukkan budaya membaca dan menulis ke dalam kurikulum muatan lokal menjadi langkah strategis untuk membentuk kebiasaan belajar sejak usia dini. Kebiasaan tersebut diyakini tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis dan memahami berbagai informasi yang diterima.
Respati juga menegaskan bahwa literasi di era digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca buku semata. Literasi harus berkembang menjadi kemampuan memahami, menganalisis, dan menyaring informasi yang beredar di media digital agar masyarakat tidak mudah terpengaruh hoaks maupun informasi yang menyesatkan.
Selain penguatan di lingkungan sekolah, ia meminta perpustakaan terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya, perpustakaan harus menjadi pusat pembelajaran yang modern, inklusif, serta mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan koleksi buku, tetapi juga menjadi ruang belajar yang mendukung peningkatan kualitas literasi masyarakat,” katanya.
Pemerintah Kota Surakarta, lanjut Respati, berkomitmen mendukung penguatan literasi digital melalui berbagai program, mulai dari pengembangan fasilitas perpustakaan, pemanfaatan layanan berbasis digital, hingga membangun kolaborasi dengan sekolah, komunitas literasi, dan berbagai pemangku kepentingan.
Ia berharap sinergi tersebut mampu meningkatkan budaya membaca masyarakat sekaligus mendorong kenaikan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat di Jawa Tengah.
“Kami berharap kegiatan ini semakin memperkuat sinergi antar daerah dalam meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, budaya membaca, serta Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat di Jawa Tengah,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Respati juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, serta seluruh pihak yang selama ini konsisten mengampanyekan gerakan literasi.
Tak hanya itu, ia turut mengajak insan pers untuk berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan menulis masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kami juga mengajak rekan-rekan jurnalis untuk mengajarkan ilmu menulis. Ini penting sekali untuk mengembalikan minat membaca dan menulis,” pungkasnya.
Melalui penguatan budaya literasi sejak pendidikan dasar dan kolaborasi lintas sektor, Pemerintah Kota Surakarta berharap lahir generasi yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu berpikir kritis, bijak memanfaatkan teknologi digital, dan siap menghadapi tantangan masa depan.








