SOLO, MettaNEWS – Revitalisasi Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) bak mimpi buruk bagi Pedagang Kaki Lima (PKL). Tak terkecuali Rusbiyanto. Sejak dipugar, Rusbiyanto dan 183 pedagang lainnya tidak lagi diizinkan berdagang di Jurug.
Awalnya Rusbiyanto dengan senang hati menyambut revitalisasi TSTJ. Sebab dengan dibangunnya taman menjadi lebih cantik, maka ia pun bisa ikut merasakan dampak baiknya.
Namun harapannya pun pupus ketika Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka memutuskan untuk merelokasi PKL ke tempat lain. Perjuangannya untuk tetap di sana juga terasa sia-sia.
“Belum ada solusi, penginnya tetap di Jurug meski hasilnya sekecil apapun kan sudah lama di situ karena ada pengunjung dari luar, kan daerah wisata jadi bisa dikenal orang luar daerah,” ujarnya ketika ditemui MettaNEWS, Senin (2/1/2023).
Meski telah ditawari Selter Manahan, namun bagi Rusbiyanto hal itu bukanlah solusi. Sebab ia sudah merasa jalannya mencari rezeki hanya bersumber pada TSTJ.
“Saya penginnya memajukan jualan saya, meskipun minim modal tapi saya berjuang dengan limbah dan kayu. Apalagi saya sudah menekuni ini 6 tahun, saya ingat betul dulu dagangan saya titipkan dulu di Jurug sampai akhirnya saya punya keinginan jualan di Jurug biarpun dulu nggak sebagus ini,” ujarnya.
Rusbiyanto tahu betul bagaimana cara mengais rezeki dari TSTJ. Selama 20 tahun ia sering menghabiskan waktu di taman tersebut hingga akhirnya ia mulai membangun bisnis miniatur dan mainan anak.
“Kerasan di sana karena pengunjungnya setiap hari ada, jelas, kedua bayarnya juga ringan jadi saya bisa jual dengan harga yang terjangkau juga jadi bisa dikenal barang saya,” ujarnya.
TSTJ Bukan Lagi Harapan Menyambung Hidup
Kini ia terancam tak dapat lagi berjualan di TSTJ sejak Pemerintah Kota Solo memugarnya jadi Solo Safari Zoo. Konsep TSTJ juga tak sesederhana dulu. Bagaimana tidak, untuk memoles wajah TSTJ, Taman Safari Indonesia (TSI) selaku investor rela merogoh gocek hingga Rp 20 miliar besarnya.
Dikonsep sedemikian mewahnya itu tentunya membuat PKL tak lagi bisa singgah di TSTJ. Hal ini menjadi kenyataan pahit bagi Rusbiyanto. Ditambah usahanya yang sempat lesu diterjang pandemi selama 2 tahun.
“Ini cobaan yang sangat berat bagi saya, sebelum Covid sudah nggak bisa jualan setelah pandemi reda ya nggak bisa jualan lagi karena dibangun,” ujarnya.
“Setelah mau jadi malah mau dipindah, apa nggak kasihan, 3 tahun lamanya saya hanya jualan seadanya mainan anak-anak untuk menopang hidup anak istri ku,” tambahnya.
Pil pahit ini harus ia telan penuh dengan kebimbangan. Di lain sisi ia tak mungkin memulai usahanya dari nol jika menerima tawaran berjualan di Selter Manahan. Di lain sisi lagi ia bingung harus berjualan di mana jika bukan Selter Manahan.
“Saya hanya pengusaha kecil-kecilan, hanya satu orang yang membantu saya, ya anak saya itu. Workshop saya juga sewa kalau nggak produksi buat bayarnya gimana jualannya nggak ada, ya sulit, saya kesulitan nggak ada jalan keluarnya,” kata Rusbiyanto.
Sewa workshop Rp 3 juta per tahun harus tetap ia bayar meski pemasukan minim. Dengan tekun Rusbiyanto tetap membuat produknya yang berbahan kayu dan limbah. Dengan sedikit harapan Rusbiyanto pun mulai berdagang di Car Free Day (CFD) meski kerap tak laku.
“Kalau nggak ditolong gimana. Megharapkan CFD cuma seminggu sekali, di sana juga pasarnya beda, disesuaikan pembeli nggak mungkin jual yang mahal. Sulitnya sangat sulit kalau dipikir susah, saya nggak pernah dapat bantuan UMKM. Terus solusinya gimana?,” tukasnya.








