SOLO, MettaNEWS – Bayangkan saja, di suatu pagi yang cerah, gempa bumi 8,6 skala ricther melanda Kota Solo. Guncangan keras selama beberapa menit merusak infrastruktur kota, banyak korban terperangkap dalam bangunan yang ambruk. Bahkan, karena gempa bumi terjadi pada jam padat aktivitas, menyebabkan kecelakaan lalu lintas di banyak tempat.
“Kami harus siap untuk musibah seperti ini. Urban SAR atau kegiatan pencarian dan penyelamatan di perkotaan menjadi semakin urgen. Maka, hari ini kami berlatih dan mencanangkan Urban SAR Jawa Tengah,” ujar Kepala Kantor SAR Semarang, Heru Suhartanto di Solo, Sabtu (15/10/2022) malam.
Latihan Urban SAR Jawa Tengah, melibatkan 160 personel Basarnas dan relawan potensi SAR dari berbagai kota. Skenarionya, begitu menerima laporan gempa bumi besar di Solo, Kantor SAR Semarang memerintahkan sejumlah pos SAR seperti Wonosobo, Jepara beserta potensi binaan masing-masing untuk bergerak ke Solo dengan kecepatan terukur.
Sampai di Solo, kondisi Pos Surakarta tidak memungkinkan untuk menjadi BOO (Base Of Operation), sehingga mereka menggunakan Asrama Haji Donohudan. Setidaknya, SAR gabungan bisa memanfaatkan halamannya yang luas, berpagar dan masih ada akses air bersih. Untuk listrik tidak ada masalah, karena tim membawa sejumlah genset.
Dalam beberapa jam, sejumlah tenda besar berdiri untuk menampung gudang peralatan, ruang kendali operasi, ruang istirahat, hingga dapur umum. Pendataan personel relawan yang terus berdatangan, menjadi salah satu aktivitas awal. Siapa pun yang masuk ke kawasan BOO wajib mencatatkan diri dan meninggalkan kartu identitas di penjagaan depan.
“Di Kota Solo dan sekitarnya ini, ada sekitar 3.000 potensi SAR, lengkap, tim yang mengkhususkan diri di dapur umum beserta perlengkapannya pun ada. Sekali masak mereka mampu menyediakan 700 hingga 1.000 ransum. Pada kondisi bencana, mereka datang melapor, dan sebelum bertugas kami cek dulu kesehatannya,” ujar Arief Sugiyarto, Koordinator Pos SAR Surakarta yang dalam latihan ini bertindak sebagai salah satu pengawas.
Latihan Berlangsung 24 Jam

Respons 24 jam pertama terhadap bencana massal, sangat menentukan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin korban. Karena itu, latihan berlangsung simultan 24 jam tanpa henti. Setelah BOO terbentuk, pengerahan rescuer segera dilakukan untuk misi penyelamatan.
Untuk itu, penyelenggara latihan sudah menyiapkan simulasi runtuhan bangunan beton dengan menempatkan “korban” di dalamnya. Ada sekitar enam simulasi sepanjang malam, mulai dari beberapa teknik penyelamatan korban di tempat tertutup, traffic accident, hingga penyelamatan di ketinggian (vertical rescue).
Sementara itu, di BOO pun yang bertugas di sana tak luput dari serangkaian simulasi yang mirip dengan situasi sebenarnya. Ada banyak keluarga korban yang memerlukan informasi, kehadiran wartawan, dan sebagainya. Pernyataan-pernyataan untuk meluruskan hoax disiapkan, karena masalah seperti itu selalu terjadi.
“Memang kalau mau siap, kita semua harus berlatih. Terus berlatih, karena kita tidak pernah tahu kapan dan bagaimana bencana terjadi. Meski, tentunya harapan semua insan SAR adalah Avignam jagad samagram, semoga selamatlah bumi seisinya,” pungkas Heru Suhartanto.









