SOLO, MettaNEWS – Peni Candra Rini penyanyi serba bisa asal Tulungagung ini tampil membahana di Solo City Jazz ke-11 di Kori Kamandungan Keraton Surakarta. Membawakan dua lagu berjudul Asmanira dan Sekar, Peni berkolaborasi dengan komponis jazz Rio Moreno dan Latin Groove.
Menggabungkan energi dan teknik vokal sinden, Peni mampu menyajikan warna jazz baru. Suara wanita kelahiran 22 Agustus 1983 ini begitu indah. Cengkoknya yang melengking di antara alunan musik tradisional seperti gamelan, gong, kenong dan seruling menggetarkan seisi venue Solo City Jazz.
“Eksplorasi ekspresi karya yang saya ciptakan berjudul Asmanira ini merupakan olah vokal gaya sinden. Saya ambil eksperimental dalam karya Asmanira dan karya Sekar, 2 lagu ini juga hasil kolaborasi dengan Rio Moreno,” kata Peni kepada MettaNEWS, Jumat (14/10/2022).
Kolaborasi dengan dua komponis Rio Moreno dan Latin Groove menjadi yang pertama bagi Peni. Untuk menggabungkan gaya bernyanyinya Peni mengaku latihan sehari penuh.
“Kolaborasi ini ada karena dipertemukan Solo City Jazz. Kami mengkolaborasikan antara komposisi saya yang bisa dikatakan gamelan klasik dengan Grove Java. Lalu berkolaborasi dengan karya latinnya mas Rio Moreno kami latihan sehari jadilah yang baru saja saya tampilkan,” terangnya.
Peni yang juga seorang komposer, penulis lagu dan penyair itu mengaku sempat kesulitan menggabungkan tiga warna musik yang berbeda. Pasalnya Peni yang seorang pesinden dan juga penyanyi kontamporer harus menyelaraskan nada dengan sang komponis jazz.
“Awalnya sangat sulit sekali karena genrenya memang berbeda tapi malam hari ini ada banyak kompromi untuk menyatu, kompromi dalam beat saling ngemong saling mendengarkan saling berinteraksi untuk tidak menutupi tapi mari saling mengangkat, memberikan ruang untuk Latin Grove,” jelas Peni.
Kendati mengalami kesulitan di awal latihan, akhirnya ketiganya mampu tampil seirama dan saling melengkapi. Peni yang juga seorang Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu mengatakan penampilannya dalam Solo City Jazz merupakan pengalaman pertama baginya.
“Ssharing energi antara saya Mas Rio dan Latin Groove ini merupakan cinta yang menjadi jembatan untuk kami berkolaborasi. Ini jadi warna baru karena biasanya full jazz tapi dengan kehadiran yang kami satukan memang sesuatu yang baru, ini juga pertama kalinya saya dilibatkan di Solo City Jazz,” katanya.
Bagi Peni, venue Solo City Jazz yang berlokasi di Keraton Surakarta sangat kental dengan nuansa sakral nan magis. Untuk itu ia tampil menyesuaikan dengan genre musik Jawa yang magis.
“Venuenya menarik di depan Keraton Surakarta yang biasanya di sini tempat tradisi tempat yang disakralkan untuk hanya ritual orang Solo tapi di sini keraton membuka diri untuk Solo City Jazz,” katanya.
Peni merasa lega dua lagu Asmanira dan Sekar mampu ia sajikan dengan manis. Pun dirinya tahu betul bagaiamana seharusnya bernyanyi di lokasi yang kental akan tradisi itu. Baginya tampil di Keraton Surakarta tidak bisa disamakan dengan venue-venue yang lain. Terlebih semua yang berada di wilayah keratonan juga harus menjaga tindak tanduknya termasuk dalam bernyanyi.
“Ahamudillah yang tadi saya tampilkan juga berbau Jawa karena saya menyadari di mana saya pentas dan untuk siapa saya pentas oleh sebab itu saya ambil energi cinta tentang bagaimana lagu dari Sekar dan lagu tentang Asmanira mengagungkan namanya nama Allah nama Tuhan yang sangat saya cintai dan sangat saya hormati,” jelasnya.
Peni merasakan atmosfer yang berbeda di Solo City Jazz Keraton Surakarta. Menurutnya Keraton Surakarta mampu membangkitkan kembali musik jazz ala Solo yang khas dan membara. Ditambah Solo City Jazz sempat vakum selama dua tahun lantaran pandemi Covid-19 melanda.
“Saya lihat Solo City Jazz dimanapun tempatnya atmosfernya selalu bagus tidak seperti jazz biasa, tapi kali ini di Keraton Surakarta memiliki energi yang benar-benar berbeda karena satu ini sebagai penanda SCJ setelah pandemi 2 tahun tidak bisa main, pelataran ini membawa energi sakral magis jadi saya juga membawa energi yang sama untuk saya bawa tampil bernyani di Keraton Surakata,” ujar Peni.
Penyanyi berusia 39 tahun itu juga membawa kabar baik usai tampil di Solo City Jazz. Pasalnya Peni akan tampil mewakili Indonesia ke kancah internasional. Ia berhasil mengukir sejarah baru dengan bernyanyi di acara One Beat X di New Meksiko Amerika Serikat.
“Saya akan New Mexico untuk acara One Beat X diplomasi musik internasional. Ini sejarah di mana acara ini merupakan pertemuan musisi di seluruh dunia yang biasanya per tahun dilakukan di Amerika untuk menengarai 10 tahun One Beat,” katanya.
Peni dipilih sebagai perwakilan alumni One Beat tahun 2014 itu merasa bangga dapat mengenalkan musik Indonesia ke Amerika Serikat.
“Kami bertemu di sana bikin acara untuk pentas tour selanjutnya saya ke Jenewa Swiss untuk menerima penghargaan Aga Khan Music Awards pada 26-30 Oktober lalu ke Los Angles (LA) persiapan konser saya di tahun 2023 bersama Teater Director dari LA,” jelasnya.
Setelah berhasil meraih penghargaan bergengsi di Musik Aga Khan 2022, Peni kemudian melanjutkan persiapan konser tournya ke Los Angles pada 2023 mendatang.
“Di tahun 2023 bersama teater contamporer wayang yang nanti dikolaborasikan. Di situ saya akan tampil mengangkat kisah dari real story of my family ketika saya masih kecil untuk dimainkan di museum,” jelasnya.







