SOLO, MettaNEWS – Pertunjukan tari bertajuk Sang Satria Wanara – Ramayana Series “Anoman Obong” digelar di Ndalem Djojokoesoeman, Minggu (22/3/2026) malam.
Dipersembahkan oleh Mokodance Studio, pertunjukan ini memadukan tari, cahaya, dan atraksi api (fire dance) yang menghadirkan kisah heroik Anoman dalam epos Ramayana. Penonton diajak menyelami legenda melalui gerak tubuh penari yang menggambarkan keberanian, semangat juang, dan nilai-nilai kepahlawanan.
Selain “Anoman Obong”, pertunjukan juga menampilkan repertoar pilihan seperti Laskar Samber Nyawa dan Gregah Rajamala, yang semakin memperkaya pengalaman artistik malam itu. Setiap gerakan tari menjadi fragmen kisah yang hidup, menghadirkan energi yang kuat dan emosional bagi para penonton.
Perwakilan Moi Art by Moigantara menyampaikan bahwa acara ini tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan pengalaman multidimensional yang mengajak penonton terlibat langsung dalam cerita.
“Ini adalah bentuk dokumentasi budaya sekaligus undangan bagi masyarakat untuk merasakan sejarah secara langsung. Penonton tidak hanya menyaksikan, tapi menjadi bagian dari kisah,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara UPTD Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta dengan dukungan Dana Alokasi Khusus Non Fisik BOP Museum dan Taman Budaya dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Acara ini juga menjadi bagian dari upaya menjadikan Ndalem Djojokoesoeman sebagai pusat aktivitas budaya di Kota Solo.
Kepala UPTD Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Bonita Rintyowati, menegaskan pentingnya pendokumentasian karya seni sebagai bukti eksistensi budaya.
“Taman budaya memiliki peran strategis sebagai pusat kegiatan seni, mulai dari workshop, pelatihan, hingga pementasan.
Dengan kapasitas terbatas sekitar 200 penonton dan tiket gratis melalui reservasi, pertunjukan ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Ke depan, agenda serupa direncanakan akan digelar rutin setiap bulan sebagai wadah kolaborasi bagi para pegiat seni tari,” jelasnya.
Konsep kreatif pendokumentasian pertunjukan ini digagas oleh Reifatama Nuraviani sebagai Art Director, yang menghadirkan format pertunjukan sekaligus dokumentasi karya seni secara inovatif.








